RI News. Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melanjutkan tur diplomatik intensifnya ke Eropa dengan menekankan dua agenda utama: memperkuat pertahanan udara melalui program PURL dan mengembangkan kerja sama produksi drone bersama mitra Eropa. Kunjungan ke Roma dan Berlin pekan ini menandai upaya Kyiv untuk membangun “keamanan bersama” berbasis keahlian tempur yang telah teruji selama lebih dari empat tahun konflik dengan Rusia.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni di Roma pada Rabu (15 April 2026), kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan, khususnya di bidang produksi drone. Meloni menyatakan bahwa Italia sangat tertarik mengembangkan produksi bersama di sektor yang kini menjadi keunggulan Ukraina.
“Kami membahas secara mendalam cara memperkuat kerja sama di bidang pertahanan,” ujar Meloni kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa Italia melihat peluang besar dalam pengembangan drone, di mana Ukraina telah menjadi salah satu negara paling maju dalam beberapa tahun terakhir.

Zelenskyy menjelaskan konsep “Drone Deal” yang dikembangkan Kyiv sebagai format perjanjian keamanan khusus. Melalui format ini, Ukraina menawarkan keahliannya di bidang drone, rudal, perang elektronik, dan pertukaran data untuk digabungkan dengan kemampuan teknis dan industri mitra Eropa, sehingga tercipta dukungan saling menguntungkan.
“Pengalaman militer dan kemampuan pertahanan kami dapat menjadi kontribusi berharga bagi keamanan bersama Eropa,” kata Zelenskyy melalui penerjemah.
Sehari sebelumnya di Berlin, Zelenskyy dan Kanselir Jerman Friedrich Merz telah mengumumkan kemitraan strategis serupa yang juga berfokus pada drone dan teknologi medan perang digital. Kunjungan tersebut menegaskan bahwa Jerman semakin melihat kerja sama dengan Ukraina bukan hanya sebagai bantuan, melainkan juga sebagai peluang untuk memperkuat industri pertahanan Eropa sendiri.
Zelenskyy berulang kali menekankan bahwa pertahanan udara tetap menjadi prioritas diplomatik nomor satu Kyiv. Pernyataan ini disampaikan hanya sehari setelah otoritas regional melaporkan serangan Rusia yang menewaskan tujuh warga sipil, termasuk seorang anak.
Baca juga : Hukuman Seumur Hidup untuk Anak Usia 12 Tahun: El Salvador Pilih Keamanan Ekstrem di Tengah Kritik Hak Asasi
“Kita membutuhkan rudal pertahanan udara setiap hari, karena Rusia terus melancarkan serangan terhadap kota-kota kami,” tulis Zelenskyy di media sosialnya.
Melalui program Prioritised Ukraine Requirements List (PURL) yang diluncurkan tahun lalu, Ukraina dapat memperoleh peralatan militer Amerika Serikat dengan dana dari negara-negara Eropa. Zelenskyy terus mendorong lebih banyak negara Eropa untuk bergabung dengan inisiatif ini guna memenuhi kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan udara.
Sementara itu, Italia telah menyumbang senjata, termasuk sistem pertahanan udara SAMP/T buatan Prancis-Italia, meskipun hingga kini belum secara resmi bergabung dengan program PURL.
Kunjungan Zelenskyy ke Eropa berlangsung di tengah ketegangan antara Italia dan Amerika Serikat. Sehari sebelum pertemuan di Roma, Presiden AS Donald Trump mengkritik tajam Meloni karena sikap Italia yang tidak mendukung keterlibatan dalam konflik dengan Iran. Trump bahkan menyatakan bahwa hubungan kedua negara “tidak lagi sama”.
Menanggapi situasi tersebut, Meloni menegaskan pentingnya persatuan antara Amerika Serikat dan Eropa dalam mendukung Ukraina.
“Barat yang terpecah dan Eropa yang retak hanya akan menjadi hadiah terbesar bagi Moskow,” katanya.

Meskipun menghadapi kritik dari Washington, Meloni tetap dikenal sebagai salah satu sekutu Eropa yang paling vokal mendukung Ukraina. Kunjungan Zelenskyy ke Norwegia pada hari yang sama juga menghasilkan komitmen serupa untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan.
Dari perspektif strategis, dorongan Zelenskyy untuk “Drone Deal” mencerminkan pergeseran paradigma: Ukraina tidak lagi hanya penerima bantuan, melainkan mitra yang menawarkan keahlian tempur nyata dan inovasi teknologi pertahanan. Pengalaman Ukraina dalam menghadapi serangan drone dan rudal Rusia, termasuk selama eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran sebagai sekutu Rusia, semakin memperkuat posisi Kyiv sebagai kontributor keamanan Eropa.
Para analis melihat inisiatif ini sebagai langkah konkret menuju industri pertahanan Eropa yang lebih terintegrasi, sekaligus mengurangi ketergantungan berlebih pada satu negara donor. Namun, keberhasilan jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan Eropa untuk menjaga kesatuan di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks dari kedua sisi Atlantik.
Hingga berita ini diturunkan, tim teknis Ukraina dan Italia sedang menyusun detail kerja sama produksi drone, sementara pembicaraan serupa dengan Jerman telah memasuki tahap implementasi awal.
Pewarta : Setiawan Wibisono

