RI News. Kyiv – Serangan udara besar-besaran Rusia kembali melanda Ukraina, menewaskan sedikitnya 22 warga sipil dan melukai puluhan lainnya dalam kurun satu malam. Serangan yang berlangsung hingga memasuki pagi hari ini menunjukkan pola eskalasi baru dari Moskow di tengah perang yang memasuki tahun keempat.
Menurut laporan otoritas Ukraina, Rusia mengerahkan 73 rudal dan 656 drone dalam serangan semalam. Sasaran utama mencakup ibu kota Kyiv, Dnipro, serta kota-kota penting di wilayah timur seperti Kharkiv, Poltava, dan Zaporizhzhia. Meski pertahanan udara Ukraina berhasil menangkis ratusan ancaman, rudal balistik yang meluncur tetap menimbulkan korban jiwa signifikan di kalangan penduduk sipil.
Di Dnipro, tim penyelamat menemukan jenazah seorang balita berusia tiga tahun bersama seorang ibu dan anak laki-lakinya yang berusia delapan tahun di antara puing-puing apartemen. Total 16 orang tewas di kota tersebut, sementara enam korban jiwa dilaporkan di Kyiv. Serangan ini terjadi di saat warga Kyiv sudah dalam ketegangan tinggi menyusul peringatan Moskow sebelumnya tentang serangan besar-besaran.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras serangan tersebut sebagai “pernyataan terbuka Rusia” bahwa agresi akan terus berlanjut selama Ukraina tidak memperoleh perlindungan memadai terhadap rudal balistik. Kekurangan sistem pertahanan udara, terutama yang mampu menangkal rudal hipersonik seperti Oreshnik, menjadi titik lemah yang dimanfaatkan Rusia.
Dari sisi sipil, cerita tragis muncul dari berbagai lokasi. Iryna Salikova, seorang ibu berusia 37 tahun di Kyiv, harus berlindung di dalam bathtub bersama anak perempuannya yang masih balita sepanjang malam. “Jendela kami hancur. Batu bata beterbangan masuk ke kamar anak. Syukurlah kami masih hidup hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, Olena Dniprovska (65) dan suaminya Yevhen (64) mengalami luka serius setelah ledakan menghancurkan apartemen mereka di Distrik Podilskyi. “Saya tidak punya tempat tinggal lagi. Semua hancur. Dari kamar langsung terbuka ke jalan,” tutur Olena dengan suara bergetar.
Baca juga : Rapuhnya Gencatan Senjata: Serangan Drone Israel Kembali Menghantam Lebanon di Tengah Upaya Diplomasi
Secara strategis, serangan ini dinilai sebagai upaya Presiden Vladimir Putin untuk menciptakan narasi kemenangan di hadapan publik Rusia yang semakin lelah dengan konflik berkepanjangan. Di saat yang sama, serangan drone Ukraina terhadap fasilitas militer dan energi Rusia terus menekan logistik dan ekonomi Moskow, sehingga memicu respons balasan yang semakin agresif.
Para analis mencatat bahwa perang ini semakin menunjukkan wajah asimetris: Rusia mengandalkan volume serangan rudal dan drone, sementara Ukraina bergantung pada ketepatan dan inovasi teknologi drone untuk menyerang jauh ke belakang garis musuh.

Serangan terbaru ini semakin memperumit prospek perdamaian, terutama setelah upaya mediasi yang melibatkan Amerika Serikat menemui jalan buntu. Meski Zelenskyy menyatakan kesiapan menerima gencatan senjata tanpa syarat, pihak Rusia tetap menolak dan malah menjadikan insiden di Starobilsk sebagai alasan untuk melanjutkan operasi.
Hingga kini, hari berkabung telah dideklarasikan di Dnipro, sementara warga di berbagai kota Ukraina kembali menghadapi ketidakpastian dan trauma yang berkepanjangan.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tag Line : #RusiaUkraina, #SeranganRudal, #PerangUkraina, #KorbanSipil, #VladimirPutin, #VolodymyrZelenskyy, #KonflikEropa, #PertahananUdara,

