RI News. Bogotá – Misi Pengamatan Pemilu Uni Eropa secara tegas membantah tuduhan kecurangan yang dilontarkan Presiden Gustavo Petro terkait pelaksanaan pemilihan presiden Kolombia pada Minggu lalu. Menurut misi tersebut, proses penghitungan suara berlangsung secara transparan, tertib, dan lancar.
Esteban González Pons, kepala Misi Pengamatan Pemilu Uni Eropa, menyatakan bahwa dari seluruh kandidat yang bertarung, tidak satu pun menyampaikan bukti konkret mengenai ketidakberesan kepada tim pengamat internasional. Pernyataan ini menjadi respons langsung atas tuduhan Petro yang menyebut adanya penambahan pemilih secara ilegal ke dalam daftar pemilih.
Pemilu putaran pertama menyisakan dua kandidat terkuat untuk melaju ke putaran kedua pada 21 Juni mendatang, yaitu pengacara Abelardo de la Espriella dengan perolehan 43,7 persen suara dan Senator Iván Cepeda yang meraih 40,9 persen. Cepeda, yang didukung oleh partai Petro, sempat menahan diri untuk mengakui hasil hitung cepat sebelum akhirnya melunakkan sikap pada Senin. Ia menyatakan bahwa pengawas dari partainya tidak menemukan pelanggaran berukuran besar yang dapat dikategorikan sebagai kecurangan.

Sementara itu, Petro terus mempertahankan tuduhannya. Ia mengklaim bahwa ratusan ribu pemilih didaftarkan melebihi batas waktu yang ditentukan serta adanya ketidakwajaran jumlah surat suara di beberapa tempat pemungutan suara. Klaim tersebut disampaikan tanpa disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Otoritas penyelenggara pemilu Kolombia melaporkan bahwa hingga Senin malam, 99,98 persen tempat pemungutan suara telah diverifikasi dengan selisih hasil hanya sebesar 0,06 persen dibandingkan hitung cepat. Misi Uni Eropa juga melakukan verifikasi silang dengan membandingkan sampel acak lembar penghitungan suara dengan surat suara fisik, dan menyimpulkan tidak terdapat manipulasi data.
Menurut hukum Kolombia, hasil akhir pemilu akan ditetapkan oleh lembaga peradilan dalam waktu dua minggu mendatang, bukan oleh presiden.
Baca juga : Malam Berdarah di Ukraina: Eskalasi Serangan Rusia Menguji Ketahanan Sipil di Tengah Kekurangan Pertahanan
Pengamat politik menilai tuduhan Petro yang belum terbukti berisiko memperdalam polarisasi di masyarakat Kolombia, terutama menjelang putaran kedua. Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu ketegangan sosial dan politik yang lebih tinggi di negara yang masih berjuang mengatasi sejarah konflik bersenjata dan perpecahan ideologis.
Putaran kedua pada 21 Juni mendatang diprediksi akan menjadi kontestasi yang semakin sengit, di mana isu legitimasi pemilu berpotensi menjadi narasi utama kedua kubu.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tag Line : #Kolombia, #PemiluKolombia, #GustavoPetro, #UniEropa, #IvánCepeda, #AbelardoDeLaEspriella, #DemokrasiAmerikaLatin,

