RI News. Kyiv, 17 April 2026 — Gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Rusia terhadap wilayah sipil di berbagai kota Ukraina pada Kamis dini hari telah menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Serangan ini tercatat sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir, menyoroti kerentanan penduduk sipil di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Menurut otoritas Ukraina, Rusia mengerahkan hampir 700 drone serang serta puluhan rudal balistik dan rudal jelajah dalam operasi yang berlangsung berjam-jam. Serangan tersebut menghantam kawasan pemukiman di Kyiv, Odesa, Dnipro, dan beberapa wilayah lainnya, menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan sipil dan infrastruktur sehari-hari.
Di ibu kota Kyiv, empat orang tewas, termasuk seorang anak berusia 12 tahun, sementara lebih dari 50 orang mengalami luka-luka. Di kota pelabuhan selatan Odesa, sembilan nyawa melayang, dan empat orang lainnya gugur di wilayah tengah Dnipro. Korban jiwa ini sebagian besar adalah warga biasa yang sedang beristirahat di rumah mereka.

Salah seorang saksi, Tetiana Sokol (54), warga Kyiv, menceritakan pengalaman mengerikan saat dua rudal menghantam dekat rumahnya. “Pada serangan ketiga, segalanya hancur berantakan. Kami terkejut dan tidak tahu harus lari ke mana. Saya hanya meraih apa yang ada di tangan dan melarikan diri bersama anjing saya,” ujarnya.
Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyelesaikan kunjungan diplomatik ke Jerman, Norwegia, dan Italia untuk mendesak pasokan tambahan sistem pertahanan udara. Kunjungan tersebut mencerminkan urgensi yang semakin mendesak di tengah kekhawatiran menipisnya stok rudal pencegat canggih, khususnya untuk sistem Patriot buatan Amerika Serikat.
Yuriy Ihnat, juru bicara Angkatan Udara Ukraina, menegaskan bahwa rudal balistik yang digunakan Rusia hanya dapat diatasi secara efektif oleh sistem Patriot. “Kami sangat membutuhkan tambahan rudal untuk sistem ini,” katanya. Ukraina memang telah berhasil mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang cukup maju dalam produksi drone dan rudal, namun masih belum mampu menyamai kecanggihan teknologi pertahanan udara Barat.
Baca juga : Ekspansi Blokade Maritim AS terhadap Iran: Strategi Tekanan Maksimal di Ambang Berakhirnya Gencatan Senjata
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa operasi tersebut menargetkan fasilitas militer sebagai balasan atas serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan pabrik senjata di wilayah Rusia. Namun, laporan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar korban berasal dari kawasan pemukiman sipil.
Presiden Dewan Eropa António Costa menyebut serangan tersebut sebagai “serangan mengerikan lainnya” yang terjadi saat warga sedang tertidur. Sementara itu, Zelenskyy menyatakan bahwa insiden ini membuktikan Rusia tidak pantas mendapatkan keringanan sanksi internasional. “Malam yang lain sekali lagi menunjukkan bahwa Rusia tidak berhak atas pelonggaran kebijakan global atau pencabutan sanksi,” tulisnya.
Di tengah duka nasional, kota Cherkasy mengumumkan hari berkabung untuk memakamkan Bohdan Serhiiev, bocah berusia delapan tahun yang menjadi korban serangan drone Rusia beberapa hari sebelumnya. Para pelayat meletakkan bunga dan boneka di samping peti mati terbuka, sementara teman-teman dan teman sekelas Bohdan memegang balon putih sebagai simbol kenangan abadi.

Kakak Bohdan, Denys Zhuk (15), mengungkapkan kesedihannya: “Dia anak yang sangat bahagia, selalu berlarian dan sangat menyayangi saya. Kami sering bermain bersama dan pergi ke lapangan sepak bola. Saya sangat merindukannya.”
Serangan berulang terhadap warga sipil ini semakin memperburuk catatan kemanusiaan perang tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa lebih dari 15.000 warga sipil Ukraina telah kehilangan nyawa sejak invasi Rusia dimulai. Di saat yang sama, kekhawatiran akan berkurangnya pasokan sistem pertahanan udara akibat konflik lain di kawasan Timur Tengah menambah tekanan bagi Kyiv untuk memperkuat pertahanannya.
Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan eskalasi taktik militer, tetapi juga menggarisbawahi tantangan berkelanjutan dalam melindungi penduduk sipil di tengah perang modern yang semakin bergantung pada teknologi drone dan rudal jarak jauh.
Pewarta : Setiawan Wibisono

