RI News. Luanda, 19 April 2026 — Dalam kunjungan apostoliknya ke Angola, Paus Leo XIV menyampaikan tantangan tegas kepada para pemimpin negara itu untuk memutus “lingkaran kepentingan” yang selama berabad-abad telah mengeksploitasi kekayaan alam dan manusia di benua Afrika. Kedatangan Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat ini menjadi sorotan dunia, terutama karena pesan perdamaian dan keadilan sosial yang ia bawa di tengah ketegangan global.
Paus Leo tiba di Luanda pada Sabtu (18 April 2026) sebagai bagian ketiga dari rangkaian kunjungan empat negara di Afrika. Sebelumnya, ia telah mengunjungi Aljazair dan Kamerun. Dalam perjalanan dari Kamerun, Paus kembali menyinggung ketegangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik di Iran. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik untuk terlibat dalam perdebatan politik, melainkan tetap fokus menyampaikan ajaran Injil tentang perdamaian, keadilan, dan persaudaraan.
Di Istana Kepresidenan, Paus Leo bertemu langsung dengan Presiden João Lourenço. Dalam pidato pertamanya di hadapan pejabat pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sipil, Paus menyoroti sejarah kelam Angola yang penuh dengan penjajahan, perdagangan budak, serta perang saudara selama puluhan tahun.

“Izinkan saya bertemu dengan Anda dalam semangat perdamaian. Rakyat Angola memiliki harta yang tak bisa dibeli atau dicuri. Di dalam diri kalian ada sukacita yang tak mampu dipadamkan oleh keadaan paling berat sekalipun,” ujar Paus Leo.
Angola, negara kaya minyak dan mineral yang merdeka dari Portugis pada 1975, masih bergulat dengan luka sejarah. Perang saudara yang berlangsung hingga 2002 menewaskan ratusan ribu jiwa dan meninggalkan trauma mendalam. Meski kini menjadi salah satu produsen minyak terbesar di Afrika serta penghasil berlian dan mineral penting dunia, lebih dari 30 persen penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem.
Paus Leo XIV secara terbuka mengkritik model pembangunan berbasis ekstraktivisme yang hanya menguntungkan segelintir pihak. “Terlalu sering tanah ini dipandang hanya sebagai sumber untuk diambil, bukan untuk dibangun bersama. Kita harus memutus siklus ini yang mereduksi kehidupan menjadi sekadar komoditas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan akan bahaya korupsi dan kekuasaan sewenang-wenang yang menghambat kemajuan. Kritik serupa pernah disampaikannya di Kamerun, di mana ia mengecam “rantai korupsi” dan “segelintir tiran” yang menyebabkan penderitaan, kematian, serta kerusakan sosial dan lingkungan.
Baca juga : Kematian Prajurit Prancis di Lebanon Selatan: Ujian Berat Bagi Gencatan Senjata yang Rapuh
Kunjungan ini memiliki makna historis yang dalam. Angola pernah menjadi pusat utama perdagangan budak trans-Atlantik. Lebih dari lima juta orang Afrika diperbudak dan dikirim ke benua lain melalui pelabuhan di Angola. Paus Leo sendiri memiliki leluhur campuran yang mencakup baik korban perbudakan maupun pemilik budak. Hal ini menambah bobot simbolis ketika ia akan berdoa rosario di Muxima pada Minggu (19 April), sebuah tempat ziarah Katolik populer yang dibangun pada abad ke-16 sebagai bagian dari kompleks benteng Portugis dan pernah menjadi pusat perdagangan budak.
Sekitar 58 persen penduduk Angola beragama Katolik. Kunjungan Paus diharapkan menjadi sumber harapan baru bagi masyarakat yang masih menghadapi tantangan kemiskinan, ketimpangan, dan warisan korupsi era pemerintahan sebelumnya.

Presiden Lourenço menyambut baik kedatangan Paus dan menyatakan komitmen pemerintahannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, meski mengakui bahwa tugas tersebut sangat kompleks. Ia juga menyerukan diakhirinya konflik di Iran dan meminta Paus terus menggunakan pengaruh moralnya untuk mendorong perdamaian dunia.
Dengan nada yang semakin tegas dalam pidato-pidatonya selama tur Afrika, Paus Leo XIV tampil sebagai suara global yang vokal membela yang tertindas. Kunjungannya ke Angola tidak hanya memperkuat ikatan spiritual, tetapi juga menjadi panggilan mendalam agar Afrika tidak lagi dilihat sebagai “ladang rampasan”, melainkan sebagai benua yang kaya akan martabat manusia dan potensi masa depan yang adil.
Pewarta : Setiawan Wibisono

