RI News. Semarang, 19 April 2026 – OpenAI, pengembang ChatGPT, semakin mengarahkan fokus utamanya ke segmen bisnis dan aplikasi profesional bernilai tinggi. Langkah ini dilakukan di tengah persaingan sengit dengan Anthropic untuk merebut pelanggan korporat, sekaligus mencari jalan menuju profitabilitas di tengah biaya komputasi yang sangat besar.
Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, mengungkapkan bahwa chatbot andalan perusahaan kini tidak hanya membantu tugas sehari-hari di rumah, seperti memberikan resep masakan, tetapi juga merangkum email dan pesan kerja bagi para eksekutif. “Kami sangat antusias dengan model baru yang akan segera diluncurkan,” ujar Friar. Model tersebut dirancang khusus untuk “pekerjaan profesional bernilai tinggi” dengan kemampuan penalaran yang lebih kuat, pemahaman maksud yang lebih baik, serta hasil yang lebih andal dalam lingkungan produksi.
Model baru OpenAI yang diberi kode nama Spud ini menjadi respons langsung terhadap kemajuan Anthropic, khususnya Claude Mythos yang diklaim memiliki kemampuan luar biasa hingga dibatasi penggunaannya hanya untuk pelanggan terpilih karena potensi risikonya di bidang keamanan siber. Sementara itu, Anthropic baru saja merilis Opus 4.7 sebagai model umum paling kuat mereka. Tak lama kemudian, OpenAI meluncurkan GPT-Rosalind, model khusus yang dinamai sesuai ilmuwan Rosalind Franklin, untuk mempercepat penemuan obat dan riset ilmu kehidupan lainnya.

Perubahan strategi ini terlihat jelas dari komposisi pendapatan OpenAI. Ketika Friar bergabung pada 2024, kontribusi pelanggan bisnis baru sekitar 20 persen. Kini angkanya telah naik menjadi 40 persen, dan diproyeksikan mencapai 50 persen pada akhir tahun ini. Langkah ini sejalan dengan perekrutan Denise Dresser, mantan CEO Slack, sebagai Chief Revenue Officer pertama. Dresser menekankan bahwa perusahaan-perusahaan kini telah melewati fase eksperimen dan mulai menggunakan AI untuk pekerjaan nyata.
“Para pemimpin perusahaan menyadari bahwa AI merupakan perubahan paling penting dalam karier mereka,” kata Dresser. Ia menambahkan bahwa OpenAI sedang memposisikan diri sebagai platform utama untuk mengotomatisasi tugas-tugas berbasis komputer melalui agen AI.
Namun, persaingan ini bukan tanpa tantangan. Kedua perusahaan masih mengalami kerugian operasional meski memiliki valuasi ratusan miliar dolar. OpenAI ditaksir bernilai 852 miliar dolar, sementara Anthropic 380 miliar dolar. Analis dari lembaga riset independen menyebut tren pertumbuhan Anthropic saat ini lebih cepat, meski keduanya diperkirakan masih sangat berdekatan dalam hal pendapatan.
Baca juga : Paus Leo XIV di Angola: Seruan Kuat Memutus Lingkaran Eksploitasi demi Keadilan bagi Afrika
OpenAI telah meninggalkan beberapa inisiatif konsumen, termasuk pengembangan aplikasi video AI Sora, untuk memastikan cukup daya komputasi bagi model-model baru. Friar mengakui keputusan itu “agak menyedihkan”, tetapi diperlukan agar perusahaan tetap fokus. “Perusahaan besar yang sukses pandai menyaring dan memfokuskan kembali sumber daya, meski prosesnya sering kali menyakitkan,” ujarnya.
Di balik persaingan ketat ini, muncul pertanyaan penting tentang keberlanjutan industri AI. Kritikus seperti Ed Zitron mengingatkan bahwa banyak startup kecil kini sangat bergantung pada alat AI dari kedua perusahaan raksasa ini. Pembatasan penggunaan dan penyesuaian harga berpotensi menimbulkan tekanan bagi pengguna berat. Zitron menyebut fenomena ini sebagai “krisis AI subprime”, di mana bisnis dan kehidupan banyak orang dibangun di atas infrastruktur yang masih belum stabil secara finansial.

Meski demikian, Friar dan Dresser optimistis bahwa pendekatan OpenAI yang lebih terbuka dan berorientasi pada manfaat luas akan unggul dalam jangka panjang. Sementara Anthropic lebih menekankan aspek keamanan dan pembatasan, OpenAI ingin membangun sistem kuat dengan pengamanan yang tepat sambil memperluas akses.
Peluncuran GPT-Rosalind menandai langkah penting OpenAI ke domain ilmiah, khususnya biomedis. Model ini diharapkan dapat mempercepat hipotesis penelitian, pemilihan target obat, dan eksperimen berkualitas tinggi — bidang yang selama ini memakan waktu hingga 10–15 tahun untuk satu obat baru.
Pergeseran ini tidak hanya mencerminkan dinamika bisnis, tetapi juga tren lebih luas dalam penerapan AI: dari hiburan konsumen menuju alat produktivitas dan inovasi ilmiah yang berdampak nyata. Bagi para pengamat, perlombaan OpenAI dan Anthropic ini akan sangat menentukan siapa yang mampu mengubah kecerdasan buatan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di masa depan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

