RI News. Wonogiri – Suasana tanah lapang berubah menjadi lautan manusia yang mengenakan pakaian muslim dan muslimah untuk melaksanakan salat Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar dalam Islam yang memiliki makna mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Pada tahun 1447 Hijriah ini, perayaan Idul Adha kembali menjadi momen penting bagi setiap keluarga untuk bersyukur, berbagi, serta merenungkan nilai-nilai keikhlasan dan pengorbanan. Tahukah Anda bagaimana asal-usul Hari Raya Idul Adha yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah?
Korib Sunarno menjelaskan bahwa sejarah Idul Adha tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Dalam ajaran Islam, diceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih anaknya sendiri sebagai bentuk ketaatan tertinggi.
Awalnya, perintah itu merupakan ujian yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim AS. Namun, beliau memutuskan untuk taat sepenuhnya kepada Tuhannya. Ketika menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail AS, sang anak justru menunjukkan ketabahan dan keikhlasan yang luar biasa. Ia berkata, “Wahai Ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Pada saat momen penyembelihan hendak dilakukan, Allah SWT menggantikan Ismail AS dengan seekor domba yang diturunkan dari surga sebagai penghargaan atas ketaatan dan pengorbanan keduanya. Peristiwa ini menjadi dasar pelaksanaan ibadah kurban yang dilakukan umat Islam setiap Idul Adha.
Penyembelihan hewan kurban, baik berupa kambing, sapi, maupun unta, menjadi simbol kepatuhan kepada perintah Allah sekaligus wujud solidaritas sosial karena dagingnya dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan.
Idul Adha juga merupakan puncak ibadah haji yang dilaksanakan di Makkah. Jutaan umat Muslim dari berbagai negara berkumpul untuk menunaikan ibadah haji, dan salah satu ritual utamanya adalah menyembelih hewan kurban setelah wukuf di Arafah. Oleh karena itu, Idul Adha sering disebut sebagai “Hari Raya Haji”.
Bagi umat Muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji, Idul Adha tetap menjadi momentum penting untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Di era modern saat ini, semangat berbagi melalui kurban semakin mudah menjangkau banyak orang berkat kemajuan teknologi. Berbagai lembaga sosial dan keagamaan kini memfasilitasi penyembelihan kurban secara daring, sehingga memudahkan umat Muslim menunaikan ibadah meskipun memiliki keterbatasan waktu dan jarak.
“Semangat kurban harus terus dijaga sebagai wujud ketaatan sekaligus kepedulian terhadap sesama,” pungkas Sunarno.
Pewarta: Nandar Suyadi

