RI News. Jakarta — Di tengah stagnasi militer di garis depan Ukraina dan melemahnya dukungan domestik, Presiden Rusia Vladimir Putin tampaknya memilih jalur eskalasi besar-besaran. Serangkaian serangan rudal intensif terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, belakangan ini bukan sekadar aksi militer biasa, melainkan upaya strategis untuk mengubah narasi perang yang semakin tidak menguntungkan bagi Moskow.
Menurut analisis situasi terkini, Rusia kini menghadapi tantangan ganda: kemajuan pasukan di medan perang yang hampir terhenti serta meningkatnya serangan balik Ukraina yang semakin jauh dan efektif. Setelah mencatat kemajuan signifikan sepanjang tahun lalu, laju serangan Rusia di sepanjang front lebih dari 1.000 kilometer kini nyaris mandek. Sementara itu, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali sebagian wilayah dan terus mengembangkan taktik inovatif untuk keluar dari pola perang posisi.
Eskalasi terbaru ini terlihat dari peringatan resmi Moskow yang akan melancarkan “serangan rudal konsisten dan sistematis” terhadap Kyiv, termasuk penggunaan rudal hipersonik Oreshnik. Serangan Minggu lalu menewaskan sedikitnya dua orang, melukai puluhan warga sipil, dan menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur sipil. Langkah ini disertai seruan evakuasi bagi kedutaan asing, sebuah sinyal kuat bahwa Putin berniat memperluas tekanan meski berisiko menuai kecaman internasional yang lebih keras.

Para pengamat menyebut keputusan ini sebagai respons terhadap dinamika yang tidak menguntungkan di dalam negeri Rusia. Ekonomi Rusia yang sempat terdorong pengeluaran militer kini mulai stagnan. Kenaikan pajak, pembatasan internet seluler, serta pemblokiran aplikasi pesan telah memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat, termasuk di kalangan influencer dan pengusaha yang selama ini mendukung Kremlin.
“Putin sedang kehilangan keajaibannya,” tulis Alexander Baunov dari Carnegie Russia Eurasia Center. Menurutnya, meski kekuasaan masih sepenuhnya berada di tangan Putin, daya tarik dan legitimasi rezimnya mulai terkikis akibat pembatasan yang semakin ketat dan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Di sisi lain, serangan drone Ukraina yang semakin berani terhadap fasilitas energi, pabrik senjata, dan bahkan pinggiran Moskow telah mengubah persepsi publik Rusia. Konflik yang semula digambarkan sebagai “operasi khusus” yang jauh dari kehidupan sehari-hari, kini mulai terasa dampaknya secara langsung. Hal ini memaksa Putin untuk mencari cara agar terlihat tetap dominan di hadapan publik Rusia.
Baca juga : Trump Tunda Keputusan Perpanjangan Gencatan Senjata Iran di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Analis militer Sergei Poletaev menilai Rusia melihat peluang dari kondisi pertahanan udara Kyiv yang semakin terkuras. Sementara itu, Thomas Withington dari Royal United Services Institute menambahkan bahwa serangan Ukraina tidak hanya menimbulkan kerugian politik, tetapi juga ekonomi yang semakin berat bagi Rusia.
Eskalasi ini juga dibarengi dengan ancaman langsung terhadap sekutu Eropa Ukraina, termasuk peringatan kepada negara-negara Baltik bahwa keanggotaan NATO tidak akan melindungi mereka dari potensi balasan Rusia. Pernyataan ini semakin mempertajam ketegangan geopolitik di Eropa.
Meski demikian, banyak pengamat mempertanyakan keberlanjutan strategi ini. Dengan semakin menipisnya sumber daya manusia dan tanda-tanda kelelahan di kalangan tentara sukarelawan, Kremlin kemungkinan besar akan terpaksa melakukan mobilisasi paksa yang lebih luas. Langkah tersebut berpotensi semakin menggerus kebebasan sipil dan kestabilan ekonomi dalam jangka panjang.

Perang yang memasuki tahun kelima ini semakin menunjukkan pola klasik konflik berkepanjangan: ketika kemenangan cepat sulit diraih, pihak yang terdesak cenderung memilih eskalasi untuk mempertahankan citra kekuatan. Bagi Putin, pertaruhan saat ini bukan hanya soal merebut wilayah, melainkan juga mempertahankan kekuasaan dan narasi kemenangan di dalam negeri.
Situasi ini masih terus berkembang. Bagaimanapun, eskalasi yang sedang berlangsung berpotensi membawa risiko yang jauh lebih besar, baik bagi Rusia maupun stabilitas keamanan regional secara keseluruhan.
Pewarta: Setiawan Wibisono

