RI News. Jakarta – Pemerintah terus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional dengan menjadikan sektor perikanan budidaya sebagai pilar utama swasembada protein. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan tambak udang dan ikan berbasis kawasan yang produktif dan berkelanjutan.
Menurut Zulhas, hasil panen udang dari kawasan-kawasan strategis akan diprioritaskan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebelum diarahkan ke pasar ekspor. Langkah ini merupakan bagian strategis dari upaya memperkuat kemandirian protein hewani nasional.
“Hasil panen udang dari kawasan akan diarahkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebagai bagian dari penguatan swasembada protein,” ujar Zulhas dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini meninjau langsung panen raya udang di Tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan Desa Tegal Retno, Kebumen, Jawa Tengah, pada Sabtu (23/5). Dalam kunjungan tersebut, Presiden turut serta menarik jaring panen bersama Zulhas dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

Tambak seluas 65 hektare dengan 206 petak kolam ini dikelola oleh Badan Layanan Umum Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kawasan ini telah dibangun selama kurang lebih tiga tahun dan menjadi contoh model tambak modern yang produktif.
Zulhas menjelaskan bahwa setiap hektare tambak ditargetkan mampu memproduksi sekitar 40 ton udang per siklus. Dengan harga rata-rata Rp70.000 per kilogram, kawasan Kebumen ini diproyeksikan menghasilkan 960 ton udang per siklus atau sekitar 1.920 ton per tahun. Nilai produksi mencapai Rp67,2 miliar per siklus atau Rp134,4 miliar per tahun, sekaligus menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 650 orang.
Selain Kebumen, pemerintah sedang mengembangkan tambak udang skala besar di Waingapu, Sumba Timur, seluas 2.000 hektare dan di Gorontalo seluas 200 hektare. Sementara itu, pengembangan tambak ikan juga disiapkan di sepanjang pantai utara Jawa Barat dengan luas mencapai 14.000 hektare.
Pendekatan berbasis kawasan ini diharapkan mampu menciptakan efisiensi produksi, meningkatkan kualitas, dan menjamin keberlanjutan lingkungan. Pemerintah menempatkan inisiatif ini sebagai kelanjutan dari keberhasilan swasembada beras, jagung, telur, ayam, dan ikan sebelumnya.
Baca juga : Ahli Waris Berusia 87 Tahun Tempuh Jalur Hukum atas Sengketa Tanah Turun-Temurun di Kendal
Data KKP menunjukkan bahwa nilai ekspor produk perikanan Indonesia mencapai 6,27 miliar dolar AS, dengan udang menyumbang sekitar 1,87 miliar dolar AS atau hampir 30 persen dari total ekspor perikanan. Sektor ini tidak hanya berperan penting dalam penyediaan protein, tetapi juga menjadi penyumbang devisa negara yang signifikan.
Zulhas menekankan bahwa penguatan swasembada protein memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar produksi pangan. Menurutnya, ketersediaan protein yang cukup dan terjangkau sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, produktivitas angkatan kerja, kecerdasan anak, serta mendukung program percepatan penurunan stunting.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan protein dalam negeri, tetapi juga semakin kompetitif di pasar global sebagai produsen udang dan produk perikanan berkualitas.
Pewarta: Yogi Hilmawan

