RI News. Jakarta – Arus mobilitas penduduk yang masif setiap hari menjadi beban berat bagi sistem transportasi di ibu kota. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa persoalan ini merupakan tantangan paling mendesak yang dihadapi Jakarta saat ini.
Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) DKI Jakarta tahun 2027 yang digelar di Balai Kota, Kamis (16/4/2026), Pramono mengungkapkan bahwa setiap pagi sekitar empat juta hingga 4,5 juta orang masuk ke Jakarta dari wilayah penyangga. Pada sore hari, mereka kembali ke tempat tinggal masing-masing.
“Bagaimanapun problem utama di Jakarta ini adalah transportasi. Jakarta ini setiap pagi ada kurang lebih empat juta sampai empat setengah juta orang masuk ke Jakarta. Sore kembali ke kediamannya masing-masing. Itulah problem transportasi yang dihadapi oleh Jakarta,” ujar Pramono.

Menurutnya, arus masuk dan keluar komuter harian tersebut terus memperberat kapasitas infrastruktur transportasi yang ada. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kemacetan kronis, tetapi juga menekan efisiensi mobilitas masyarakat secara keseluruhan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta mendorong pengembangan sistem transportasi berbasis transit sebagai solusi jangka panjang. Pramono menyebut pendekatan ini sebagai upaya menciptakan ekosistem mobilitas dan konektivitas masyarakat yang lebih terintegrasi.
“Penciptaan ekosistem mobilitas dan konektivitas masyarakat berbasis transit Jakarta,” katanya.
Pendekatan berbasis transit diharapkan dapat memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus mengurangi ketergantungan warga terhadap kendaraan pribadi. Pramono juga memetakan arah pengembangan setiap wilayah Jakarta sesuai potensinya.
Ia mencontohkan Jakarta Pusat yang tetap difokuskan pada sektor jasa pemerintahan dan perdagangan internasional. Sementara Jakarta Selatan terus berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Wilayah lain seperti Jakarta Timur, Jakarta Barat, serta Kepulauan Seribu juga memiliki peran strategis masing-masing.
Baca juga : Sindikat Narkoba yang Dikendalikan dari Balik Jeruji: Jaringan Ekstasi Lintas Sumatera Terbongkar
“Jakarta Pusat misalnya, tentunya hal yang berkaitan dengan jasa pemerintahan, perdagangan internasional. Jakarta Selatan sekarang menjadi salah satu ikon pertumbuhan ekonomi baru di Jakarta. Dan sebagainya dan sebagainya, termasuk Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Pulau Seribu,” jelas Pramono.
Pramono secara khusus menyoroti potensi Kepulauan Seribu sebagai kawasan strategis yang harus dipersiapkan sejak dini. Menurutnya, kepulauan ini akan menjadi salah satu masa depan Jakarta jika dikelola dengan baik.
“Saya selalu mengatakan bahwa salah satu masa depan Jakarta yang harus dikelola dirawat dengan baik adalah Pulau Seribu. Itu akan menjadi masa depannya Jakarta,” ungkapnya.
Ia optimistis bahwa persiapan matang sejak sekarang akan membawa perubahan positif bagi Jakarta secara keseluruhan.
“Jadi saya yakin kalau ini dipersiapkan dari sekarang maka Jakarta mudah-mudahan akan menjadi lebih baik,” pungkas Pramono.
Pernyataan Gubernur ini mencerminkan komitmen Pemprov DKI untuk membangun Jakarta yang lebih berkelanjutan, dengan transportasi terintegrasi sebagai pilar utama pembangunan jangka menengah dan panjang menuju kota yang lebih manusiawi dan efisien.
Pewarta : Yogi Hilmawan

