RI News. Jakarta — Wabah Ebola kembali melanda Republik Demokratik Kongo bagian timur dengan cepat dan mematikan. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan sejak resmi diumumkan pada 15 Mei, lebih dari 100 orang telah meninggal dunia akibat virus yang langka ini. Situasi ini menggarisbawahi betapa rapuhnya sistem kesehatan di wilayah yang sudah lama dilanda konflik dan ketidakpercayaan masyarakat.
Hingga data terbaru, otoritas kesehatan mencatat 550 kasus terkonfirmasi, dengan 101 kematian dan hanya 19 pasien yang berhasil sembuh. Sebagian besar kasus terkonsentrasi di Provinsi Ituri, yang menyumbang lebih dari 90 persen temuan, meski penyebaran juga merembet ke North Kivu, South Kivu, serta menyeberang ke Uganda.
Para ahli meyakini jumlah kasus sebenarnya jauh lebih tinggi. Penyebab utamanya adalah keterlambatan deteksi wabah selama beberapa minggu serta tingkat pelacakan kontak yang masih berada di angka 64 persen, meski sudah menunjukkan perbaikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, dari 137 sampel yang diuji, 35 di antaranya positif. Wabah kali ini dipicu oleh virus Bundibugyo, jenis Ebola yang jarang muncul dan belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui, berbeda dengan strain Zaire yang mendominasi wabah-wabah sebelumnya di Kongo.

Peningkatan kasus yang tajam sebagian disebabkan oleh perluasan kapasitas diagnosis laboratorium, yang memungkinkan pengujian terhadap sampel-sampel lama yang menumpuk. Namun, di lapangan, upaya pengendalian menghadapi tantangan berlapis. Serangan terhadap tenaga kesehatan oleh warga yang marah, ketidakpatuhan protokol kesehatan, serta konflik bersenjata yang tak kunjung reda menjadi penghalang utama.
Wilayah timur Kongo telah lama menjadi sarang puluhan kelompok bersenjata, termasuk yang memiliki kaitan dengan jaringan ekstremis internasional. Lebih dari 520 insiden yang mengganggu kerja petugas kesehatan dilaporkan sejak pertengahan Mei. Konflik ini tidak hanya memutus akses ke komunitas terpencil, tetapi juga memperburuk risiko penularan yang tidak terdeteksi.
Hampir satu juta penduduk Ituri terpaksa mengungsi akibat kekerasan. Mobilitas tinggi di kalangan penambang tradisional di wilayah kaya mineral semakin menyulitkan upaya pelacakan kontak. Kehidupan sehari-hari di Bunia, ibu kota provinsi, juga terganggu. Pengemudi ojek, misalnya, kini hanya boleh mengangkut satu penumpang untuk mengurangi risiko penularan.
Baca juga : Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang: Pemulihan Aliansi Strategis China-Korea Utara di Tengah Persaingan Global
Penyintas wabah Ebola 2018 — yang merupakan yang terbesar kedua dalam sejarah — mengingatkan agar kesalahan masa lalu tidak terulang. Mereka menekankan pentingnya membangun kepercayaan masyarakat dan melibatkan pemimpin lokal dalam setiap langkah respons.
Meski risiko penyebaran ke negara-negara Afrika lain dan tingkat global masih dinilai rendah oleh WHO, situasi ini tetap menjadi peringatan serius bagi kesehatan global. “Pasien Ebola dapat sembuh jika mendapatkan dukungan medis yang memadai,” ujar Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Sementara itu, rencana pembangunan pusat karantina Ebola di Kenya yang sempat menuai protes publik akhirnya dihentikan pengadilan setempat, mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kesiapan infrastruktur kesehatan di kawasan.
Wabah ini sekali lagi membuktikan bahwa penanganan penyakit menular di wilayah konflik tidak bisa hanya mengandalkan intervensi medis semata, melainkan juga membutuhkan pendekatan yang sensitif terhadap konteks sosial, budaya, dan keamanan.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #EbolaKongo, #WabahEbola, #KrisisKesehatanAfrika, #KonflikIturi, #ResponsGlobalEbola, #BundibugyoVirus, #KesehatanPublik, #PengungsiKongo,

