RI News. Magelang — Api Dharma yang diambil dari Mrapen, Kabupaten Grobogan, kini disemayamkan di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, sebagai bagian penting rangkaian perayaan Waisak 2026. Api suci ini akan dibawa ke Candi Borobudur pada 31 Mei 2026, menjadi pusat perhatian umat Buddha Indonesia dalam merayakan Trisuci Waisak.
Sekretaris Jenderal Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Biksu Kamsai Sumana Mahathera, menekankan makna mendalam di balik tradisi Api Dharma ini. Menurutnya, api bukan sekadar nyala simbolis, melainkan representasi terang kebijaksanaan yang mampu menghapus kegelapan batin manusia.
“Api itu simbolis tradisi kita menjadi terang. Terang itu damai, damai adalah kebijaksanaan untuk melawan kotoran batin, baik saat kita berada dalam kegelapan, kebencian, maupun kebodohan,” ujar Biksu Kamsai Sumana Mahathera di Magelang, Jumat.
Ia menambahkan bahwa api dalam tradisi Waisak melambangkan penerangan kehidupan menuju kedamaian dan kasih sayang antarsesama. Cahaya api menjadi pengingat bagi umat manusia untuk hidup berdampingan dengan welas asih, sehingga kegelapan batin dapat berubah menjadi terang kehidupan yang lebih bermakna.

Dalam penjelasannya, Biksu Kamsai juga menyampaikan makna lilin yang dinyalakan dalam prosesi Waisak. Warna merah, putih, dan kuning pada lilin melambangkan kebahagiaan, kesucian, serta cahaya kebijaksanaan yang diajarkan Sang Buddha.
“Api dharma Waisak sebagai simbol terang kebijaksanaan yang mampu melenyapkan kegelapan batin manusia, seperti kebencian, emosi, dan kebodohan,” tegasnya.
Tahun ini, umat Buddha mendapat kesempatan khusus untuk melaksanakan pradaksina (berjalan mengelilingi candi) dan meditasi di area samping Candi Mendut. Hal ini dilakukan karena pemerintah sedang melaksanakan pemugaran di bagian dalam candi yang mengalami rembesan air. Renovasi jangka panjang ini diperlukan untuk menjaga kelestarian situs bersejarah tersebut.
Setelah disemayamkan di sekitar Candi Mendut, Api Dharma akan diberangkatkan menuju Candi Borobudur pada 31 Mei 2026 sebagai puncak perayaan Waisak nasional. Setibanya di Borobudur, umat Buddha dari berbagai aliran yang tergabung dalam Walubi akan melaksanakan doa secara bergantian.
“Doa itu berisi hal-hal positif, doa untuk kebahagiaan dan kesehatan. Makna Waisak adalah menyucikan hati dan pikiran,” kata Biksu Kamsai.
Perayaan Waisak 2026 mengusung semangat memperkuat harmoni dan kebijaksanaan di tengah kehidupan modern yang penuh tantangan. Api Dharma yang berasal dari Mrapen, yang secara tradisi dianggap memiliki api abadi, menjadi pengingat bahwa cahaya kebijaksanaan harus terus dijaga dan disebarkan.
Dengan prosesi yang sarat makna filosofis ini, umat Buddha Indonesia diharapkan semakin mendalami ajaran untuk hidup damai, penuh kasih sayang, serta berkontribusi positif bagi masyarakat luas. Api Dharma bukan hanya warisan budaya, melainkan juga panggilan spiritual untuk terus menerangi kegelapan batin di era saat ini.
Pewarta: Rendro P

