RI News. Kutai Timur – Pengakuan terhadap kekayaan budaya lokal kembali menguat dalam lanskap kebijakan pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia resmi menetapkan Festival Lom Plai di Kabupaten Kutai Timur sebagai bagian dari agenda Karisma Event Nusantara 2026 (KEN) 2026. Penetapan ini tidak hanya menegaskan posisi festival sebagai atraksi unggulan, tetapi juga memperlihatkan arah baru pembangunan pariwisata berbasis budaya dan keberlanjutan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menilai Festival Lom Plai sebagai representasi autentik nilai-nilai kosmologis masyarakat adat Dayak Wehea. Dalam perspektif antropologi budaya, festival ini tidak sekadar ritual tahunan, melainkan medium reproduksi sosial yang menjaga keseimbangan relasi manusia, alam, dan spiritualitas.
Puncak perayaan yang berlangsung di Desa Nehas Liah Bing menjadi ruang artikulasi identitas kolektif masyarakat adat. Rangkaian kegiatan dimulai dari prosesi sakral Ngesea Egung—pemukulan gong sebagai penanda awal siklus ritual—yang secara simbolik membuka ruang komunikasi antara manusia dan entitas spiritual. Tahapan berikutnya, Laq Pesyai, memperlihatkan praktik ekologis berbasis kearifan lokal melalui pengambilan hasil hutan secara selektif dari hulu Sungai Wehea.

Dalam kerangka studi lingkungan, ritual seperti Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min yang menandai batas wilayah kampung menunjukkan adanya sistem pengelolaan ruang berbasis adat yang berfungsi sebagai mekanisme konservasi. Sementara itu, ritual tertutup Ngelwung Pan yang dilakukan perempuan adat di bawah rumah keturunan Hepui memperlihatkan dimensi gender dalam praktik spiritual, sekaligus memperkaya kajian etnografi mengenai peran perempuan dalam menjaga ritus sakral.
Memasuki fase persiapan puncak, masyarakat membangun pondok sementara di tepian sungai dalam tradisi Naq Jengea, mencerminkan adaptasi sosial terhadap siklus alam. Puncak acara Bob Jengea menampilkan ekspresi budaya yang lebih terbuka seperti tari Hudoq, pawai adat, hingga atraksi Seksiang—perang-perangan di atas air—yang menjadi daya tarik visual sekaligus simbol ketangkasan dan solidaritas komunal.
Seluruh rangkaian ditutup dengan ritual Embos Epaq Plai yang berfungsi sebagai “pembersihan sosial” menjelang musim tanam. Dalam perspektif sosiologi ritual, fase ini menandai reintegrasi komunitas sekaligus harapan kolektif terhadap keberlanjutan kehidupan agraris.
Baca juga : Kedaulatan Bioteknologi: Dorongan Strategis Pengembangan Ekosistem Sel Punca Nasional
Lebih jauh, pengakuan melalui KEN 2026 menempatkan Festival Lom Plai dalam orbit ekonomi kreatif nasional. Pemerintah daerah memandang momentum ini sebagai peluang strategis untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan ekowisata. Lanskap hutan tropis yang relatif terjaga, dipadu dengan keunikan sistem sosial adat, memberikan nilai diferensiasi yang kuat dibanding destinasi lain.
Namun demikian, integrasi ke dalam agenda nasional juga membawa konsekuensi. Tantangan utama terletak pada menjaga autentisitas ritual di tengah potensi komersialisasi. Dalam konteks ini, pendekatan pariwisata berkelanjutan menjadi krusial, agar ekspansi ekonomi tidak menggerus nilai-nilai lokal yang justru menjadi daya tarik utama.
Dengan demikian, Festival Lom Plai tidak hanya berfungsi sebagai agenda pariwisata, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi budaya yang memperlihatkan bagaimana masyarakat adat mampu berkontribusi dalam pembangunan nasional tanpa kehilangan identitasnya. Pengakuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan pariwisata Indonesia sangat bergantung pada kemampuan merawat harmoni antara tradisi, alam, dan modernitas.
Pewarta : Vie

