RI News. Klaten — Warga Desa Pesu, Kecamatan Wedi, kembali menyuarakan desakan mendesak perbaikan Jembatan Balong yang melintasi alur anak Sungai Bengawan Solo. Jembatan yang telah berusia puluhan tahun ini dinilai tidak lagi mampu menjawab kebutuhan masyarakat, baik dari sisi keselamatan banjir maupun kelancaran transportasi antardesa.
Jembatan Balong terletak di perbatasan Desa Pesu dengan Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno. Dengan panjang hanya sekitar 7 meter dan lebar 2,5 meter, jembatan peninggalan era kolonial Belanda ini memiliki satu tiang penyangga besar tepat di tengah alur sungai. Keberadaan tiang tersebut kerap menjadi pemicu penyumbatan aliran air, terutama saat musim hujan tiba.
Kasi Pemerintahan Desa Pesu, Ade Sutanto, menjelaskan bahwa tiang besar itu menyebabkan eceng gondok, batang bambu, ranting pohon, dan sampah-sampah lainnya mudah tersangkut. Kondisi sungai yang relatif dangkal di sekitar jembatan semakin memperburuk situasi.

“Tiangnya sangat besar sehingga eceng gondok maupun ranting pohon sering menyangkut ketika debit air meningkat. Dan kondisinya sangat dangkal,” ujar Ade Sutanto saat ditemui di Kantor Desa Pesu, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, penyumbatan tersebut berulang kali meningkatkan risiko luapan air ke pemukiman warga. Salah satu banjir besar yang sempat melanda kawasan tersebut terjadi pada tahun 2021, ketika tanggul sungai di dekat jembatan jebol dan menggenangi rumah-rumah penduduk. Hampir setiap musim hujan, warga terpaksa melakukan gotong royong membersihkan sampah yang menyangkut, yang tentu memakan biaya dan tenaga tidak sedikit.
Selain persoalan hidrologi, kondisi fisik jembatan juga dianggap sudah tidak memadai. Lebar yang sempit membuat kendaraan roda empat sulit berpapasan. “Kalau ada mobil melintas dari dua arah, salah satu harus berhenti dulu sampai kendaraan lainnya lewat,” tambah Ade.
Usulan renovasi Jembatan Balong telah berulang kali disampaikan oleh Pemerintah Desa Pesu dan Pemerintah Desa Kragilan. Permohonan tersebut telah diajukan melalui berbagai tingkatan, mulai dari pemerintah kabupaten hingga provinsi. Namun hingga kini, belum ada realisasi yang jelas.
Baca juga : Kenangan Manis di Tengah Aturan Ketat: Wisuda SMP Negeri Tetap Digelar Tanpa Beban Orang Tua
Kepala Desa Pesu, Budi Hartono, kembali menyampaikan aspirasi yang sama dalam kegiatan Sambung Rasa yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Pesu pada Jumat (5/6/2026). Acara tersebut dihadiri langsung Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo beserta jajaran organisasi perangkat daerah dan badan usaha milik daerah.
Dalam sambutannya, Bupati Hamenang sempat menyinggung usulan perbaikan Jembatan Balong. Ia menyatakan bahwa pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Klaten lebih memprioritaskan perbaikan dua jembatan lain di Kecamatan Wedi, yaitu Jembatan Gempol I dan Jembatan Gempol IV yang mengalami kerusakan cukup parah.
“Untuk Jembatan Gempol I dan Gempol IV sudah mulai drop material sehingga pekan depan insyaallah sudah mulai pelaksanaan,” kata Hamenang.
Meski demikian, warga Desa Pesu berharap agar Jembatan Balong tidak dilupakan. Bagi masyarakat di dua desa perbatasan tersebut, jembatan ini memiliki peran vital dalam mendukung aktivitas sehari-hari dan konektivitas antarwilayah.
Renovasi menyeluruh diharapkan dapat menghilangkan tiang penyangga di tengah sungai, memperlebar badan jembatan, serta memperkuat struktur agar lebih tahan terhadap debit air Sungai Bengawan Solo yang kerap fluktuatif.
Pewarta : Rendro P
Tagline : #JembatanBalong, #RenovasiJembatan, #DesaPesu, #KecamatanWedi, #BanjirKlaten, #InfrastrukturPedesaan, #SungaiBengawanSolo,

