RI News. Jakarta, 28 Maret 2026 – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melakukan kunjungan mendadak ke Arab Saudi pada Kamis lalu. Kunjungan ini mencerminkan upaya Kyiv untuk memperluas kerja sama pertahanan dengan negara-negara Teluk di tengah konflik yang semakin kompleks di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur.
Menurut pernyataan Zelenskyy, pertemuan penting telah dijadwalkan selama kunjungan tersebut. Ia menekankan pentingnya dukungan bersama untuk menjamin keamanan regional. Beberapa hari sebelumnya, Zelenskyy mengungkapkan bahwa Ukraina sedang memberikan bantuan teknis kepada lima negara di Timur Tengah dan Teluk—yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, serta Yordania—untuk menghadapi ancaman serangan drone.
Bantuan tersebut mencakup transfer keahlian sistem pertahanan drone dan pengembangan pertahanan udara yang lebih kuat. Ukraina juga sedang mempelajari kemungkinan perannya dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Sebagai imbalan, Ukraina berharap mendapatkan pasokan rudal pertahanan udara canggih dari negara-negara Teluk, yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat pertahanannya terhadap serangan rudal Rusia.

Ukraina telah berkembang pesat menjadi salah satu produsen terdepan sistem pencegat drone yang murah, efektif, dan telah teruji dalam pertempuran nyata. Kemampuan ini menjadi aset strategis penting dalam menghadapi invasi Rusia yang memasuki tahun kelima.
Secara paralel, negara-negara Eropa Utara menyatakan komitmen untuk memperketat pengawasan terhadap “armada bayangan” Rusia—kumpulan kapal tanker tua yang digunakan Moskow untuk mengekspor minyak dan produk petroleum sambil menghindari sanksi Barat. Armada ini menjadi sumber utama pendanaan invasi Rusia ke Ukraina.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dalam pertemuan Joint Expeditionary Force di Finlandia, menyatakan bahwa upaya melawan armada bayangan harus ditingkatkan. Ia mengumumkan bahwa militer Inggris kini berwenang menaiki kapal-kapal tersebut saat melintasi perairan Inggris, sejalan dengan beberapa negara sekutu lainnya.
“Kita harus menutup jalur laut penting bagi perdagangan vital ini guna mempertahankan tekanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan mengubah narasi perang di Ukraina,” ujar Starmer.
Dalam pesan video yang direkam, Presiden Zelenskyy menegaskan bahwa ekspor minyak dan gas Rusia terus membiayai upaya Moskow untuk menguasai wilayah Ukraina. “Kapal tanker dan armada bayangan Rusia tidak boleh merasa aman di perairan Eropa,” tegasnya.
Ketegangan di laut semakin meningkat setelah sebuah kapal tanker beroperasi di bawah pengelolaan Turki, Altura, diserang oleh drone laut di Laut Hitam pada Kamis dini hari. Kapal tersebut sedang mendekati pintu masuk Selat Bosporus dari arah utara ketika mengalami kerusakan pada ruang mesin dan jembatan kemudi.
Menteri Perhubungan Turki Abdulkadir Uraloglu menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa di antara 27 awak kapal berkewarganegaraan Turki. Kapal Altura dilaporkan mengangkut sekitar 140.000 ton minyak mentah dan telah dikenai sanksi Uni Eropa sejak Oktober 2025 karena terlibat dalam pengangkutan minyak Rusia yang menghindari sanksi.

Serangan ini terjadi di tengah pola yang semakin sering dilakukan Ukraina menggunakan drone laut untuk menargetkan aset maritim Rusia di Laut Hitam dan sekitarnya. Meski demikian, pihak Turki belum secara resmi menyebutkan pelaku di balik serangan tersebut.
Kunjungan Zelenskyy ke Arab Saudi menunjukkan strategi diplomasi baru Ukraina: memanfaatkan pengalaman tempur melawan drone dan rudal Rusia untuk membangun kemitraan dengan negara-negara kaya sumber daya di Timur Tengah. Di saat yang sama, upaya Barat untuk memutus aliran dana perang Rusia melalui armada bayangan semakin intensif.

Perkembangan ini menggambarkan semakin terintegrasinya berbagai front konflik—dari Ukraina hingga Timur Tengah—dalam satu jaringan geopolitik yang saling terkait. Keberhasilan atau kegagalan tekanan terhadap ekspor energi Rusia kemungkinan akan sangat memengaruhi jalannya perang di tahun-tahun mendatang.
Berita ini disusun berdasarkan laporan resmi dan pernyataan para pemimpin terkait.
Pewarta : Setiawan Wibisono

