RI News. Jakarta — Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan sementara operasi militer Amerika Serikat untuk membuka jalur navigasi di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil untuk memberi ruang bagi upaya diplomatik menyelesaikan kesepakatan dengan Iran guna mengakhiri konflik yang telah mengganggu pasokan energi global.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut penundaan tersebut didasarkan pada permintaan Pakistan dan beberapa negara lain, serta kemajuan signifikan yang dicapai dalam perundingan dengan perwakilan Iran. Meski demikian, blokade laut AS di selat tersebut tetap dipertahankan.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan dalam konferensi pers di Gedung Putih bahwa gencatan senjata di Timur Tengah masih berlaku, meskipun ketegangan belum sepenuhnya mereda. Menurut Rubio, perdamaian sejati hanya dapat tercapai jika Iran memenuhi tuntutan AS untuk membatasi program nuklirnya secara signifikan dan membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional.

“kami lebih memilih jalur perdamaian,” tegas Rubio, seraya menyatakan harapan bahwa kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke China dapat mendorong Beijing untuk menekan Tehran agar melepaskan kendali atas selat vital tersebut.
Meski disebut sebagai hari yang relatif lebih tenang, upaya AS membuka jalur di Selat Hormuz terus berlanjut dengan pengawalan ketat. Rubio menggambarkan kondisi ribuan pelaut sipil yang terjebak sebagai situasi yang mengkhawatirkan, dengan setidaknya sepuluh korban jiwa telah dilaporkan akibat konflik.
Hingga kini, baru dua kapal dagang yang berhasil melintas melalui jalur yang dijaga AS. Ratusan kapal lainnya masih terjebak di Teluk Persia. Penutupan efektif selat oleh Iran telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dunia dan mengguncang stabilitas ekonomi global.
Sementara itu, Uni Emirat Arab melaporkan serangan drone dan rudal Iran untuk hari kedua berturut-turut. Serangan tersebut memicu kebakaran di fasilitas minyak penting di Fujairah dan menimbulkan korban luka di kalangan warga sipil. Serangan serupa juga dilaporkan di perairan lepas pantai UEA.
Baca juga : Potensi Konflik Kepentingan: Kepala SMPN 4 Liwa Diduga Jabat Bendahara Organisasi Wartawan
Iran melalui juru bicaranya membantah telah menyerang UEA dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa Tehran masih memegang kendali penuh atas situasi dan siap melanjutkan respons jika diperlukan.
Selat Hormuz merupakan arteri utama pasokan minyak dan gas dunia. Penutupannya secara efektif telah menjadi senjata ekonomi utama Iran dalam menghadapi tekanan AS. Dengan diberlakukannya blokade oleh Washington sejak pertengahan April, pendapatan minyak Iran pun semakin terpukul.
Para analis menilai langkah penundaan Trump mencerminkan pendekatan ganda: menjaga tekanan militer sambil membuka peluang diplomasi. Namun, tantangan teknis dan keamanan untuk membuka selat sepenuhnya tetap besar. Jalur sempit hanya selebar 34 kilometer itu sangat rentan terhadap serangan rudal, drone, dan ranjau.

Perusahaan pelayaran internasional besar seperti Hapag-Lloyd masih menyatakan bahwa transit melalui Selat Hormuz belum aman dan belum mungkin dilakukan dalam waktu dekat.
Negosiasi saat ini dilaporkan berjalan melalui perantara, termasuk Pakistan. Pemerintahan Trump berpandangan bahwa gencatan senjata awal April memungkinkan pihaknya melanjutkan operasi tanpa harus segera melapor secara formal ke Kongres sesuai ketentuan Resolusi Kekuasaan Perang.
Keputusan Trump menunda operasi ini muncul di tengah upaya AS untuk mencapai “kesepakatan lengkap dan final” dengan Iran. Keberhasilan atau kegagalan upaya ini akan sangat menentukan stabilitas Timur Tengah dan harga energi dunia ke depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono


