RI News. Washington, 6 Mei 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencananya untuk membahas operasi militer terhadap Iran bersama Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan resmi ke Beijing pada 14–15 Mei mendatang. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang terus membayangi stabilitas pasokan energi dunia.
“Saya akan berbicara dengan Xi tentang Iran. Itu akan menjadi salah satu topik,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa. Ia menambahkan bahwa hingga saat ini Beijing menunjukkan sikap hormat dan tidak menantang langkah-langkah Washington dalam kampanye militer tersebut.
Konflik yang berlarut-larut ini bermula pada 28 Februari lalu ketika pasukan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target di Iran. Aksi tersebut menimbulkan kerusakan signifikan serta korban jiwa di kalangan sipil, memicu reaksi internasional yang beragam.

Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan. Namun, upaya mediasi lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa hasil konkret. Menyusul kegagalan tersebut, Trump memutuskan memperpanjang penghentian serangan untuk memberi ruang bagi Iran menyusun “proposal terpadu” yang diharapkan dapat menjadi dasar penyelesaian.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia ini nyaris melumpuhkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi arteri utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair ke pasar global. Gangguan sekecil apa pun di selat sempit tersebut langsung berdampak pada rantai pasok energi internasional.
Akibatnya, harga energi dunia melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan biaya bahan bakar dan listrik ini tidak hanya membebani rumah tangga di berbagai negara, tetapi juga menambah tekanan inflasi pada perekonomian global yang masih dalam tahap pemulihan pascapandemi.
Baca juga : Ketegangan Memuncak di Lebanon Selatan: Baku Tembak Terhebat Sejak Gencatan Senjata
Kunjungan Trump ke Beijing kali ini dipandang banyak pengamat sebagai momen krusial. Selain isu Iran, pertemuan kedua pemimpin besar tersebut diperkirakan juga akan menyentuh isu perdagangan dan stabilitas regional Asia-Pasifik. Partisipasi China sebagai mitra ekonomi utama Iran menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah diplomasi mendatang.
Para analis hubungan internasional menilai pembicaraan Trump-Xi berpotensi membuka jalur de-eskalasi, meski tantangan tetap besar mengingat posisi Iran yang keras kepala dan kepentingan strategis berbagai pihak di Selat Hormuz. Hasil pertemuan di Beijing nanti kemungkinan besar akan menentukan apakah kawasan Teluk Persia dapat kembali tenang atau justru memasuki babak baru yang lebih tidak terduga.
Masyarakat dunia kini menanti langkah konkret dari kedua negara adidaya tersebut, terutama dampaknya terhadap harga komoditas energi dan stabilitas ekonomi global di paruh kedua tahun 2026.
Pewarta : Setiawan Wibisono

