RI News Portal. Jerusalem – Pemerintah Israel secara resmi menyatakan sedang melakukan pemantauan intensif terhadap gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang terus meluas di berbagai kota besar Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Tabriz. Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pembukaan sidang kabinet mingguan, Minggu (11/1/2026).
“Keberanian luar biasa yang ditunjukkan warga Iran patut menjadi perhatian dunia. Kami menyaksikan dengan kagum semangat mereka yang menuntut kebebasan di tengah represi yang semakin keras,” ujar Netanyahu. Ia juga menegaskan kembali posisi Israel yang mengutuk keras kekerasan terhadap demonstran sipil dan menyatakan harapan untuk membangun hubungan baru dengan Iran apabila negara tersebut berhasil melepaskan diri dari “cengkeraman kekuasaan otoriter”.
Sumber-sumber keamanan Israel yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa komunikasi tingkat tinggi antara Perdana Menteri Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio telah berlangsung pada Sabtu malam waktu setempat. Pembicaraan tersebut mencakup evaluasi terkini situasi dalam negeri Iran serta implikasi strategis dari potensi eskalasi militer yang diisyaratkan oleh Presiden Donald Trump melalui sejumlah pernyataan di platform daring selama akhir pekan.

Meski demikian, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada perubahan status kesiapsiagaan sipil terkait ancaman rudal balistik Iran. “Situasi yang berkembang di Iran merupakan perkembangan internal yang kami pantau, namun tidak memicu pengaktifan kembali protokol perlindungan sipil seperti pada periode-periode ancaman konkret sebelumnya,” demikian pernyataan resmi militer.
Para analis keamanan senior di lingkungan pertahanan Israel cenderung sepakat bahwa Tel Aviv tidak memiliki kepentingan untuk memanfaatkan kelemahan sementara rezim Iran saat ini guna melancarkan aksi militer proaktif.
Danny Citrinowicz, mantan kepala divisi riset Iran di salah satu unit intelijen militer dan kini peneliti senior di lembaga kajian keamanan nasional, menilai: “Bagi kepemimpinan Iran, prioritas absolut saat ini adalah memulihkan stabilitas domestik. Membuka front baru dengan Israel merupakan pilihan yang sangat tidak rasional dalam kondisi mereka sekarang.”
Baca juga : Krisis Mata Uang dan Gelombang Protes: Titik Balik Potensial bagi Republik Islam Iran
Citrinowicz juga menekankan bahwa kedua pihak tampaknya sama-sama tidak berminat memicu kembali konfrontasi bersenjata skala besar seperti yang terjadi pada musim panas 2025 lalu—konflik 12 hari yang ditutup dengan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Sementara itu, Menahem Merhavy, pakar studi Iran dari Hebrew University of Jerusalem, menawarkan perspektif yang lebih tajam terkait kalkulasi strategis Israel. “Fokus utama keamanan nasional Israel tetap pada kemampuan rudal balistik jarak jauh dan infrastruktur pendukungnya, bukan pada bentuk pemerintahan yang sedang berkuasa di Teheran,” ujarnya. “Kecuali terjadi perkembangan dramatis yang langsung mengancam kemampuan rudal tersebut, Israel tidak memiliki alasan kuat untuk turut campur secara aktif.”
Merhavy bahkan menyebut bahwa serangan balasan Iran terhadap Israel pada tahap ini justru dapat menjadi “tanda akhir” bagi rezim yang sedang terpojok, karena respon militer Israel kemungkinan besar akan mendapat dukungan domestik yang sangat luas baik di dalam maupun di luar negeri, mengingat citra rezim Iran yang semakin ternoda akibat penanganan keras terhadap demonstrasi.

Di sisi lain, ancaman keras kembali dilontarkan dari kubu parlemen Iran. Ketua Majelis Syura Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi “sasaran yang sah” jika terjadi intervensi militer asing terhadap Republik Islam. Pernyataan itu disambut sorak “Maut bagi Amerika” dari anggota parlemen yang berbondong-bondong mendekati mimbar.
Situasi tegang di Iran terus berlangsung di tengah ketidakpastian yang semakin dalam. Sementara demonstrasi memasuki pekan ketiga dengan intensitas yang belum menurun, komunitas internasional—termasuk Israel—tampak memilih sikap menunggu dan melihat, menghindari langkah yang dapat mengubah dinamika internal Iran menjadi konflik regional yang jauh lebih luas dan sulit dikendalikan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

