RI News. Pemalang – Nama Desa Banyumudal dalam bahasa Jawa berarti “air yang melimpah”. Namun, di balik limpahan mata air yang debitnya stabil sepanjang tahun, ribuan Kepala Keluarga di desa ini justru hidup dalam kesulitan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Air yang seharusnya menjadi berkah lokal malah mengalir ke desa-desa tetangga melalui jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mulia.
Letak geografis menjadi kendala utama. Mata air berada di kawasan rendah dan curam, sementara pemukiman warga berada di dataran yang lebih tinggi. Tanpa infrastruktur pompa yang memadai dan anggaran yang memungkinkan, warga hanya bisa menjadi penonton saat air dari wilayah mereka dinikmati orang lain.
Syamsul Ma’arif, warga Dusun Sikucibg, Desa Banyumudal, mengungkapkan keseharian yang pahit. “Kami memiliki mata air yang sangat besar, bahkan lebih dari satu titik. Tapi untuk menyalurkannya ke masyarakat, kami tidak punya anggaran memadai. Akhirnya kami terpaksa berlangganan PDAM dan bayar bulanan,” ujarnya, Senin (4/5).

Menurut aktivis lingkungan Pemalang, Andi Rustono, kondisi ini murni soal topografi dan biaya teknis. Air dapat mengalir secara gravitasi ke desa-desa lain yang lebih rendah tanpa pompa. Sementara untuk mendongkrak air ke Banyumudal, diperlukan investasi infrastruktur yang jauh melampaui kemampuan Dana Desa saat ini.
Kondisi ini memunculkan ironi mendalam di tengah semangat pembangunan desa dan hak dasar akses air bersih. Warga berharap PDAM Tirta Mulia dapat turun tangan lebih aktif, tidak sekadar sebagai penyedia layanan berbayar, melainkan mitra teknis dan pendanaan.
“Kami berharap PDAM bisa melihat langsung kondisi di lapangan. Kami sangat membutuhkan bantuan instalasi pompa dan perpipaan agar air yang melimpah ini tidak hanya lewat begitu saja, tapi benar-benar bisa masuk ke rumah-rumah warga,” tegas perwakilan warga.
Terpisah, Penjabat Sementara (Pjs) Direktur PDAM Tirta Mulia, Sarwo Edi, menyambut positif keluhan tersebut. Saat menerima perwakilan warga di ruang kerjanya, ia menyatakan komitmen pihaknya untuk membantu.
Baca juga : Lapas Cipinang Perkuat Pencegahan Penyakit Menular Lewat Skrining Massal HIV, TB, dan Hepatitis C
“Masyarakat bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada. Kalau misalnya butuh kajian dari kami, bisa dibantu tanpa biaya, dengan catatan ada bantuan dari warga. Prinsip kami tetap koperatif dan siap berdampingan dengan masyarakat,” katanya.
Kisah Banyumudal mencerminkan tantangan klasik pengelolaan sumber daya alam di pedesaan Indonesia: potensi melimpah tapi distribusi yang tidak merata akibat kendala teknis dan finansial. Publikasi kasus ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi lebih luas antara pemerintah desa, PDAM, pemerintah kabupaten, dan masyarakat untuk mewujudkan akses air bersih yang adil.
Warga Banyumudal dan sekitarnya berharap, mata air yang selama ini menjadi pemandangan menyakitkan hati segera bertransformasi menjadi sumber kehidupan yang sesungguhnya—bukan hanya untuk tetangga, melainkan bagi pemilik tanah itu sendiri.
Pewarta : Ragil Surono


