Skip to content
20/10/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Stories
  • Historial Perang Jawa: Nyala Perlawanan Pangeran Diponegoro

Historial Perang Jawa: Nyala Perlawanan Pangeran Diponegoro

Jurnalis RI News Portal Posted on 1 tahun ago 3 minutes read
Nyala Perlawanan Pangeran Diponegoro
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News Portal. Semarang– Angin sore bertiup pelan di desa Tegalrejo. Pangeran Diponegoro, yang kala itu lebih suka hidup sederhana di luar keraton, duduk di serambi rumah sambil memandang sawah yang mulai menguning. Hatinya gelisah, bukan karena urusan dunia, tetapi karena tanah leluhurnya hendak dilalui proyek jalan yang dipaksakan Belanda.

“Apakah kita harus diam saat tanah warisan para leluhur diinjak-injak?” ucapnya lirih pada Kiai Mojo, sahabat dan penasihat spiritualnya.
“Tidak, Pangeran. Rakyat sudah terlalu lama menanggung beban. Mungkin inilah saatnya jihad melawan penindasan,” jawab Kiai Mojo dengan suara mantap.

Beberapa hari kemudian, bendera perlawanan dikibarkan. Ribuan rakyat dari Bagelen, Banyumas, hingga Kediri berbondong-bondong datang membawa senjata seadanya: pedang, tombak, bahkan bambu runcing. Mereka percaya, bersama Diponegoro, mereka akan menuntut keadilan.

Tanggal 20 Juli 1825 menjadi awal dari kobaran besar. Pasukan Diponegoro menyerang pos Belanda di dekat Yogyakarta. Asap membumbung, dentuman senjata api Belanda terdengar bersahutan dengan teriakan takbir para laskar.

“Jangan takut pada peluru mereka!” seru Pangeran Diponegoro di tengah medan. “Allah bersama kita, bersama orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran!”

Belanda kaget. Dalam hitungan bulan, perlawanan Diponegoro menyebar ke hampir seluruh Jawa. Belanda mengirim ribuan tentara, namun taktik gerilya yang dipimpin para panglima Diponegoro membuat mereka kewalahan. Jalan-jalan menuju kota terputus, logistik Belanda terhambat, dan beberapa benteng kolonial berhasil direbut.

Namun perang selalu membawa duka. Rakyat banyak yang meninggalkan sawah dan ladang, hidup di hutan dan gua untuk menghindari kejaran tentara kolonial. Dalam keheningan malam, Diponegoro sering duduk termenung.

“Berapa lama lagi kita harus bertahan, Kiai?” tanya Diponegoro pada Kiai Mojo.
“Selama darah kita masih mengalir, Pangeran. Perlawanan ini bukan untuk kita, tapi untuk anak cucu kelak.”

Melihat kekuatan Diponegoro yang tak kunjung padam, Jenderal De Kock merancang benteng stelsel—membangun benteng kecil di setiap desa untuk memutus gerakan laskar. Sedikit demi sedikit, kekuatan Diponegoro terdesak. Beberapa panglima gugur, di antaranya Sentot Prawirodirjo yang setia berperang hingga akhir.

Baca juga : Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Menbud Fadli Zon Tekankan Jati Diri Bangsa

Musim kemarau tahun 1829 menjadi masa tersulit. Rakyat kekurangan makanan, penyakit mulai menyebar, dan pengkhianatan terjadi di beberapa pihak. Meski begitu, semangat Diponegoro tak surut.
“Kita boleh kalah di medan perang,” ujarnya pada para pengikutnya, “tapi jangan pernah kalah dalam iman dan keyakinan.”

Tahun 1830, Belanda menawarkan perundingan damai. Di Magelang, Pangeran Diponegoro datang dengan harapan dapat mengakhiri penderitaan rakyat. Namun, itu hanyalah siasat licik.
Ketika pintu ruang perundingan tertutup, De Kock memberi tanda pada tentaranya.
“Maafkan aku, Pangeran. Ini perintah negeri kami,” ujar De Kock dengan dingin.

Diponegoro ditangkap tanpa sempat melawan. Dari balik jendela penjara, ia menatap langit Magelang, seakan berbicara kepada rakyatnya:
“Perjuangan ini belum berakhir. Suatu hari nanti, bangsa ini akan merdeka.”

Meski diasingkan ke Manado, lalu Makassar, nama Diponegoro justru semakin harum. Perang Jawa yang menelan korban ratusan ribu jiwa menjadi saksi bahwa semangat perlawanan rakyat Nusantara tak bisa dipadamkan. Kini, Pangeran Diponegoro dikenang bukan hanya sebagai pahlawan perang, tetapi sebagai simbol keteguhan hati, iman, dan keberanian melawan ketidakadilan.

Penulis : Anjar Bramantyo

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Menbud Fadli Zon Tekankan Jati Diri Bangsa
Next: Rusia Terbuka untuk Perdamaian dengan Ukraina, namun Prioritaskan Pencapaian Tujuan Strategis

Related Stories

Pohon Jati Ki Ageng Sentono yang Ditanam Bupati Broto Pranoto

Pohon Jati Ki Ageng Sentono: Diboyong Bupati Wonogiri Ke-8 Broto Pranoto Menjadi Kerangka Rumah Dinas

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 minggu ago 0
Ribuan Seniman Tayub Serba Sejenis Kumpulkan di Trenggalek

Ribuan Seniman Tayub Serba Sejenis Kumpulkan di Trenggalek, Budaya Tradisional yang Bisa Naik Level Nasional

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 minggu ago 0
4 Agenda Tahunan yang Menyembunyikan Rahasia 250 Suku di Balik Kebangkitan Identitas

Festival Budaya Papua 2026: 4 Agenda Tahunan yang Menyembunyikan Rahasia 250 Suku di Balik Kebangkitan Identitas

Virly Posted on 2 minggu ago
Trimakasih untuk Jurnalis RI News Lee Anno Yogyakarta, yang selalu mengawal kegiatan Kodim 073/Kulon Progo
Kepala MTsN 3 Klaten, Mukarom Faisal Rosidin, S.Pd.I., M.Si.
Iklan Kemerdekaan RI Ke-81
C.I.A Official
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video

Komentar

  1. A mengenai Pompa Air Sekolah Diduga Bocor Arus Listrik, Siswa Kelas V SD di Padangsidimpuan Tewas
  2. Zulfian andesta mengenai Regenerasi Kepemimpinan di Polda Jateng: 13 Posisi Strategis Berganti, Semangat “Polisi Bersama Masyarakat” Jadi Pegangan
  3. Tukino/T.gaul mengenai Menjaga Mahkota Lumbung Pangan: Ngawi Kebut Sertifikasi Benih Padi Unggul Lokal yang Tembus 12 Ton per Hektare
  4. Warudi mengenai Gubernur Papua Pilih “Mendayung Bersama”: Tiga Transformasi Disiapkan untuk Selamatkan Fiskal Daerah yang Menyusut
  5. Yudha Purnama mengenai Ombudsman RI Petakan Kesehatan Mata Generasi Muda dari Seleksi Poltek Imipas

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Kapolri dan Panglima TNI Rapatkan Barisan Hadapi Kejahatan Lintas Batas hingga Ancaman Siber
  • Jejak Dana di Balik Akun Pialang: KPK Panggil Petinggi Perusahaan Berjangka dalam Kasus Gratifikasi Setjen MPR
  • Kesejahteraan di Garis Depan: Mendagri Tito Tegaskan Warga Perbatasan sebagai Benteng Nasionalisme
  • Dari Tanggul hingga Mangrove: Pantura Jawa Dilindungi dengan Dua Pendekatan Sekaligus
  • Wonogiri Kunci Rapat Keamanan Pilkades: 150 Personel Siaga dalam Operasi Aman Desa 2026
Copyright © RI News Production | MoreNews by AF themes.

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by