RI News. Jakarta, 3 September 2026 — Rekam jejak kepemimpinan di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kerap ditentukan oleh kapabilitas perwira dalam mengelola potensi konflik dinamika sosial serta stabilitas keamanan nasional. Salah satu figur perwira tinggi yang mencatatkan portofolio panjang di bidang intelijen dan keamanan (intelkam) adalah Irjen Pol Dekananto Eko Purwono. Perwira tinggi lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 asal Bojonegoro, Jawa Timur ini secara resmi menyandang pangkat jenderal bintang dua (Inspektur Jenderal Polisi) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 82/POLRI/TAHUN 2026 tertanggal 1 September 2026, yang disahkan melalui upacara korps rapot di Jakarta pada Rabu (2/9).
Kenaikan pangkat ini menjadi pijakan krusial dalam perjalanan karier Dekananto yang sarat dengan pendekatan intelijen preventif dan resolusi konflik berbasis humanis. Sebelum mengemban amanat sebagai Wakapolda Metro Jaya, kiprah kepemimpinannya teruji saat menjabat sebagai Direktur Intelijen Keamanan (Dirintelkam) Polda Jawa Timur sejak Februari 2022. Dalam panggung resolusi konflik regional, salah satu instrumen kebijakan strategis yang diinisiasinya adalah penanganan gesekan antarkelompok perguruan pencak silat—sebuah isu sosiologis yang menahun di Jawa Timur.

Melalui pendekatan persuasif dan penegakan regulasi wilayah, kepemimpinan Dekananto memfasilitasi pembongkaran serta alih fungsi sebanyak 686 tugu perguruan silat yang berdiri tanpa izin atau menempati fasilitas publik dan tanah negara. Bangunan-bangunan simbolis yang kerap memicu persepsi territorial dan gesekan antarkelompok tersebut dialihfungsikan menjadi Tugu Pancasila. Strategi dekonsentrasi simbolis ini tidak hanya mereduksi eskalasi bentrokan komunal, namun juga mentransformasi identitas kelompok menuju penguatan nilai-nilai kebangsaan. Di saat bersamaan, pendekatan soft diplomacy turut diterapkan melalui dialog berkelanjutan bersama elemen akar rumput, termasuk komunitas suporter sepak bola.
Pengalaman lapangan di Jawa Timur tersebut memperkuat rekam jejak kepemimpinannya ketika dipercaya memegang posisi strategis di Ibu Kota sebagai Dirintelkam Polda Metro Jaya pada tahun 2024, sebelum kemudian ditarik ke Baintelkam Polri sebagai Direktur Politik pada Mei 2025. Penguasaan analisis intelijen politik dan keamanan wilayah urban menjadikannya figur yang dinilai tepat untuk mendampingi tata kelola keamanan Ibu Kota saat ditunjuk sebagai Wakapolda Metro Jaya berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1764/VIII/KEP/2025 pada Agustus 2025.
Dalam perannya sebagai Wakapolda Metro Jaya, Dekananto mengimplementasikan doktrin kepolisian presisi berbasis kewilayahan melalui program Jaga Jakarta On The Spot. Program interaktif ini berfokus pada analisis potensi gangguan keamanan berbasis masukan langsung dari warga, sekaligus membangun sinergitas tritunggal antara Polri, TNI, dan masyarakat lokal, seperti yang terealisasi dalam dialog keamanan di kawasan Tanah Abang pada Juni 2026.
Dimensi kontribusi Dekananto tidak terbatas pada aspek sekuritisasi konvensional, melainkan juga menyentuh aspek kesejahteraan sosial dan ketahanan nasional. Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya kepadanya atas dedikasi dan kontribusi nyata dalam mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penguatan jaringan rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri.
Baca juga: Ancaman di Atas Bumbungan: Potret Pembiaran Potensi Bahaya Kelistrikan di Permukiman Warga
Pencapaian pangkat Inspektur Jenderal Polisi ini menegaskan konsistensi karier Irjen Pol Dekananto Eko Purwono dalam mengelaborasi fungsi intelijen strategis, manajemen konflik komunal, serta pendekatan kepolisian dialogis di kawasan metropolitan.
Pewarta: Yudha Purnama
Tagline: #IrjenDekanantoEkoPurwono, #WakapoldaMetroJaya, #IntelkamPolri, #ResolusiKonflik, #TuguPancasila, #SatyalancanaWiraKarya, #KeamananMetropolitan, #RINews,

