RI News. Lombok Barat – Industri perhotelan Indonesia tengah menyaksikan pergeseran paradigma pasar yang menarik. Bukan lagi hanya orang dewasa yang menjadi penentu utama, melainkan anak-anak dari Generasi Alpha yang mulai memengaruhi keputusan perjalanan keluarga secara signifikan.
Ketua Umum Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa, mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IHGMA di Hotel Merumatta, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/4/2026).
“Generasi Alpha suka traveling dan pasti mengajak orang tua. Perilaku seperti itu yang berdampak terhadap peningkatan hunian kamar hotel,” ujar Arimbawa.
Generasi Alpha, yang lahir sekitar tahun 2013 hingga pertengahan 2023, dikenal sangat akrab dengan teknologi gawai sejak dini. Mereka memiliki ekspektasi tinggi terhadap pengalaman wisata, menyukai aktivitas interaktif, serta cenderung memilih destinasi yang ramah anak. Menurut Arimbawa, kecenderungan ini membuat anak-anak dari generasi tersebut tidak hanya ikut serta, melainkan aktif menjadi influencer dalam rencana liburan keluarga.
Baca juga : Tragedi Kerja Bakti di Dusun Pendem: Struktur Balai Inventaris Roboh, Satu Warga Meninggal Dunia
Tren ini semakin terlihat selama periode libur panjang seperti Lebaran, Nyepi, dan libur sekolah, di mana tingkat okupansi hotel menunjukkan pemulihan yang cukup baik. Arimbawa menekankan bahwa industri perhotelan harus beradaptasi lebih cepat. Hotel tidak lagi cukup hanya menyasar segmen tamu dewasa, tetapi juga perlu menciptakan fasilitas dan program yang memenuhi preferensi anak-anak sebagai penentu utama perjalanan keluarga.
“Ketika Generasi Alpha muncul, maka perlu percepatan dalam beradaptasi melihat peluang,” tegasnya.
Selain Generasi Alpha, Arimbawa juga menyoroti kelompok demografi lain yang tetap menjadi kekuatan pendorong pariwisata. Generasi X, Y, hingga transisi ke Generasi Z masih menunjukkan minat tinggi untuk bepergian. Sebagian dari mereka bahkan menunda pernikahan demi mengeksplorasi berbagai destinasi wisata.
Di sisi lain, industri perhotelan mulai melirik peluang dari pergerakan keluarga transmigran. Generasi ketiga keluarga transmigran yang telah berhasil secara ekonomi cenderung melakukan perjalanan balik ke kampung halaman. Meski bersifat musiman, fenomena ini turut menyumbang peningkatan permintaan kamar hotel.
“Orang tidak melihat itu sebagai segmen pasar. Itu musiman, tapi inilah yang sedang terjadi,” kata Arimbawa.
Baca juga : Tragedi Kerja Bakti di Dusun Pendem: Struktur Balai Inventaris Roboh, Satu Warga Meninggal Dunia
Secara statistik, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Indonesia pada Februari 2026 sebesar 44,89 persen. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan Januari 2026 yang mencapai 47,53 persen. Sementara rata-rata lama menginap tamu asing maupun domestik relatif singkat, yaitu 1,64 hari pada Februari dan 1,59 hari pada Januari 2026.
Meski demikian, pemulihan okupansi selama periode libur menandakan potensi pertumbuhan yang lebih stabil jika industri mampu menangkap peluang dari perubahan perilaku wisatawan muda ini.
Arimbawa menambahkan bahwa adaptasi cepat menjadi kunci bagi pelaku perhotelan untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah dinamika pasar yang semakin dipengaruhi oleh generasi digital native. Dengan memahami preferensi Generasi Alpha dan kelompok keluarga lainnya, industri perhotelan Indonesia diharapkan dapat menciptakan pengalaman wisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Berita ini disusun berdasarkan pernyataan resmi dalam Rakernas IHGMA 2026, dengan pendekatan analisis yang menekankan implikasi strategis bagi industri pariwisata nasional.
Pewarta : Vie

