RI News. Lampung Timur, Minggu 1 November 2026 – Empat puluh hari telah berlalu sejak wafatnya almarhum Buchari bin Muhammad Kasim, ayahanda Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Kabupaten Lampung Timur, Amir Paisol, S.H. Namun, kepergian orang tua tercinta tidak serta-merta menghapus kenangan, kasih sayang, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskannya kepada keluarga.
Peringatan 40 hari wafatnya almarhum diisi dengan tahlilan, doa bersama, dan tausiyah pada Sabtu (31/10/2026) malam. Momentum ini sarat makna bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat yang hadir. Kegiatan tersebut bukan sekadar ruang mengenang almarhum, tetapi juga kesempatan memperkuat keimanan, mengambil pelajaran dari kehidupan, dan menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Suasana khidmat terasa dengan hadirnya mubalig muda Lampung Timur, Dr. KH. M. Muslih, S.H.I., M.H., Pengasuh Pondok Pesantren Darul Fattah, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur. Beliau hadir untuk bertakziah sekaligus menyampaikan tausiyah keagamaan.

Dalam ceramahnya yang bertajuk perjalanan seorang hamba yang wafat meninggalkan alam dunia menuju alam barzah, Muslih mengupas secara mendalam kehidupan di alam kubur. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan diselingi humor khas ulama Nahdlatul Ulama, materi yang berat terasa lebih mudah dicerna jamaah.
Ia menegaskan bahwa setiap tahapan perjalanan di alam barzah membutuhkan doa dari ahli waris, yang dibantu kaum muslimin, sahabat, tetangga, dan seluruh tamu undangan. Doa yang dipanjatkan para pelayat, menurutnya, menjadi bekal yang terus mengalir bagi almarhum.
Selain itu, Muslih mengajak jamaah mengamalkan tiga ibadah sederhana yang berdampak besar bagi kehidupan, yakni bertakziah, menjenguk orang sakit, dan bergembira atas kelahiran seorang bayi. Ketiganya, kata dia, berpengaruh pada upaya menjaga kesehatan, memperpanjang umur, dan menghadirkan kebahagiaan hidup di dunia.
Melalui pesan tersebut, masyarakat diajak memperbanyak amal kebaikan, menjaga hubungan baik antarsesama, menghormati orang tua, dan meningkatkan kepedulian sosial, mengingat harta dan jabatan hanyalah titipan.
Kekhusyukan kian terasa saat sesi doa bersama berlangsung. Seluruh tamu undangan memanjatkan doa dengan tulus, memohon ampunan dan rahmat bagi almarhum. Rangkaian doa para jamaah dan keluarga itu merupakan amal jariyah sekaligus wujud cinta yang tak terputus bagi orang yang telah mendahului.
Bagi Amir Paisol dan keluarga, peringatan ini menjadi momen emosional sekaligus penguat silaturahmi. Meski raga telah tiada, nasihat, perjuangan, kasih sayang, dan keteladanan sang ayah tetap hidup dalam ingatan dan menjadi warisan berharga bagi keluarga.
Baca juga: Pendataan dari Bawah, Kediri Benahi Desil Bansos yang Tertukar
Lebih dari sekadar tradisi memperingati 40 hari wafat, doa bersama ini diharapkan memberi nilai edukasi spiritual yang mendalam bagi masyarakat: mengingat kematian adalah pengingat untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memperbanyak amal saleh.
Acara ditutup dengan doa untuk almarhum Buchari bin Muhammad Kasim. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kekhilafan, menerima amal ibadahnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan dalam melanjutkan kehidupan. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Pewarta: Lii
Tagline: #EmpatPuluhHari, #DoaBersama, #TausiyahBarzah, #AmirPaisol, #LaskarMerahPutih, #LampungTimur, #PonpesDarulFattah, #AmalJariyah,
