RI News. Wonogiri, Minggu 1 November 2026 – Dua varietas sorgum lokal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, resmi memperoleh persetujuan pelepasan varietas dari Kementerian Pertanian. Keputusan itu menjadikan sorgum yang selama puluhan tahun ditanam secara turun-temurun oleh masyarakat kini memiliki status hukum sebagai varietas tanaman resmi. Dengan status tersebut, keduanya dapat dikembangkan lebih luas, diproduksi dalam skala besar, dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun industri.
Kedua varietas itu diberi nama Bismara dan Baskara Giri. Selama ini keduanya merupakan kekayaan hayati lokal yang diwariskan lintas generasi oleh petani Wonogiri. Setelah melalui proses pelepasan varietas, keduanya memiliki identitas yang sah dan dapat dipakai sebagai dasar pengembangan benih serta pemasaran.
Kepala Dinas Pertanian Wonogiri, Baroto, menyampaikan bahwa persetujuan tersebut diperoleh setelah serangkaian pengujian selama kurang lebih tiga tahun, yakni sejak 2022 hingga 2025. Pengujian dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menilai karakteristik dan mutu sorgum lokal. Uji multilokasi dilaksanakan di dua titik di Kecamatan Wuryantoro, sedangkan uji ketahanan terhadap penyakit dilakukan di Maros, Sulawesi Selatan.

“Uji multilokasi kita lakukan di dua daerah di Wuryantoro. Kemudian uji ketahanan terhadap penyakit dilakukan di Maros, Sulawesi Selatan. Dari hasil uji, performanya cukup bagus,” ujar Baroto, Sabtu (31/10/2026).
Dari tiga varietas lokal yang diajukan kepada Kementerian Pertanian, hanya dua yang dinyatakan memenuhi persyaratan. Satu varietas lainnya belum dapat dilepas karena tim penguji menilai produktivitasnya belum optimal dan sebagian tanamannya masih rentan terhadap penyakit. Varietas tersebut dinilai memerlukan penelitian lanjutan sebelum dapat diajukan kembali.
Menurut Baroto, setiap varietas yang disetujui memiliki karakteristik dan arah pemanfaatan yang berbeda. Bismara diproyeksikan untuk menunjang industri, baik industri pangan maupun energi. Adapun Baskara Giri memiliki tekstur ketan yang lengket sehingga diarahkan menjadi bahan pangan premium.
Perbedaan karakter itu dinilai memperluas peluang pemanfaatan sorgum Wonogiri. Selain berpotensi menjadi alternatif sumber pangan, sorgum juga dapat dikembangkan sebagai bahan baku industri bernilai ekonomi.
Pascapersetujuan tersebut, Dinas Pertanian Wonogiri mulai menyiapkan pengembangan kedua varietas. Salah satu langkahnya adalah memperluas budidaya di Kecamatan Wuryantoro, yang selama ini menjadi salah satu sentra penanaman sorgum lokal di kabupaten tersebut.
Baroto mengungkapkan, antusiasme masyarakat untuk kembali menanam sorgum mulai terlihat. Sejumlah pihak menghubungi dinas untuk menanyakan ketersediaan benih setelah mengetahui varietas tersebut resmi dilepas.
“Masyarakat sudah mulai tumbuh semangatnya kembali. Setelah pelepasan varietas ini, banyak yang menanyakan kebutuhan benih kepada kami,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan pengembangan sorgum sangat bergantung pada prospek ekonomi yang diperoleh petani. Jika komoditas ini mampu memberikan pendapatan yang layak, masyarakat diyakini akan lebih tertarik membudidayakannya. Karena itu, pengembangan Bismara dan Baskara Giri tidak semata-mata untuk menjaga keberadaan pangan lokal, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi petani. Ketersediaan benih dan perluasan lahan tanam menjadi faktor kunci agar produksi dapat ditingkatkan.
Dari sisi produktivitas, Baroto menyebut sorgum idealnya menghasilkan minimal enam hingga tujuh ton per hektare dalam satu kali panen. Capaian itu diharapkan menjadi pertimbangan petani dalam menjadikan sorgum sebagai komoditas bernilai ekonomi.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah melindungi sekaligus mengembangkan kekayaan sumber daya genetik pertanian lokal. Dengan diakuinya Bismara dan Baskara Giri, Wonogiri kini memiliki dua varietas sorgum lokal yang berpeluang menjadi komoditas unggulan dengan jangkauan pasar yang lebih luas.
Pewarta: Nardar Suyadi
Tagline: #SorgumWonogiri, #Bismara, #BaskaraGiri, #VarietasLokal, #Kementan, #PanganLokal, #Wuryantoro, #KetahananPangan,

