RI News. Washington D.C, 1 November 2026 – Transisi menuju energi bersih ternyata menyisakan persoalan ekologis yang selama ini kurang disadari. Sebuah studi ilmiah terbaru memperkirakan bahwa 18,7 juta kelelawar dari 28 spesies mati akibat turbin angin di Amerika Serikat sepanjang 1981 hingga 2024.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences itu disebut sebagai kajian paling menyeluruh tentang persoalan tersebut hingga saat ini. Temuannya menunjukkan lonjakan tajam. Sekitar dua dekade lalu, kematian kelelawar akibat turbin diperkirakan sekitar 100.000 ekor per tahun. Pada 2021, angkanya naik menjadi sekitar 1,5 juta ekor per tahun, seiring pesatnya pembangunan pembangkit listrik tenaga angin.
Sebagian besar data kematian kelelawar berasal dari pencarian bangkai oleh operator ladang angin. Cara ini punya kelemahan. Metode pencarian berbeda-beda antarlokasi, bangkai dapat cepat diambil hewan pemakan bangkai, dan rumput yang tinggi dapat menyamarkan keberadaannya. Akibatnya, jumlah kematian yang tercatat berpotensi lebih rendah daripada kenyataan.

Untuk mengatasinya, tim peneliti mengembangkan pendekatan statistik yang memperhitungkan data yang tidak lengkap. Pendekatan ini memungkinkan mereka memperkirakan jumlah kematian per spesies di seluruh negeri, termasuk di ladang angin yang tidak pernah dipantau. Meski demikian, para peneliti mengakui keterbatasan kualitas data masih menjadi kendala dalam analisis mereka.
Mekanisme pasti penyebab tabrakan juga belum sepenuhnya dipahami. Dugaan yang muncul antara lain kelelawar tertarik pada suara baling-baling, keliru mengira turbin sebagai pohon, kesulitan mendeteksi bilah yang berputar, atau terpikat oleh faktor lain yang belum diketahui.
Studi ini juga mengidentifikasi faktor yang memengaruhi tingkat risiko. Ladang angin di dekat sungai cenderung mencatat kematian lebih tinggi, karena sungai merupakan sumber makanan, air, dan penunjuk arah bagi banyak spesies kelelawar. Selain itu, turbin dengan jarak bilah ke permukaan tanah yang lebih rendah terbukti lebih mematikan. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan lokasi dan desain perlu dipertimbangkan sejak tahap perencanaan.
Baca juga : Razia Gabungan di Lapas Kediri: Enam dari Sepuluh Warga Binaan Positif Narkoba, 26 Poket Diduga Sabu Disita
Solusi praktis datang dari kajian terpisah di jurnal Applied Ecology. Penelitian atas 141 ladang angin di Eropa, tempat kelelawar dilindungi oleh Petunjuk Habitat Uni Eropa, menemukan bahwa menghentikan operasi turbin saat kondisi lokal sangat mendukung aktivitas terbang kelelawar dapat menurunkan angka kematian hingga lebih dari 80 persen.
Pendekatan serupa sudah diterapkan di sejumlah negara. Jerman, misalnya, mewajibkan langkah mitigasi sejak sekitar 2010, berupa penilaian risiko saat penentuan lokasi dan pembatasan operasional, seperti menahan putaran rotor pada musim migrasi atau pada kondisi cuaca ketika kelelawar paling aktif.
Namun, strategi tersebut tidak serta-merta menyelamatkan semua satwa. Langkah ini terbukti belum menurunkan kematian burung migran, yang juga menjadi korban turbin. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati di sekitar pembangkit energi terbarukan membutuhkan solusi yang lebih beragam dan berbasis bukti.
Bagi para pembuat kebijakan, temuan ini menjadi pengingat bahwa energi bersih perlu dikembangkan secara cermat agar tidak menimbulkan kerugian ekologis baru.
Pewarta: Vie
Tagline: #EnergiAngin, #Kelelawar, #TurbinAngin, #EnergiTerbarukan, #KonservasiSatwa, #TransisiEnergi, #KeanekaragamanHayati, #RisetIlmiah,
