RI News. Solo, Rabu (22/7/2026) — Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Solo mengajak ratusan santri Pondok Pesantren Al Muayyad untuk menjadi garda terdepan dalam merawat demokrasi Indonesia melalui program Bawaslu Solo Goes to Pesantren.
Kegiatan yang digelar Jumat (17/7/2026) sebagai bagian dari rangkaian Masa Ta’aruf Madrasah Aliyah (Mata Muda) ini diikuti sekitar 100 santri. Inisiatif tersebut mencerminkan komitmen Bawaslu Solo untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi, kepemiluan, dan pengawasan partisipatif sejak dini di kalangan generasi muda pesantren.
Anggota Bawaslu Solo, Agus Sulistyo, menekankan pentingnya peran strategis santri dalam perjalanan bangsa. Menurutnya, sejak masa perjuangan kemerdekaan, santri telah menunjukkan semangat kebangsaan, integritas, dan pengabdian yang tinggi.

“Semangat kebangsaan, integritas, dan pengabdian kepada negara telah menjadi bagian dari tradisi pesantren sejak masa perjuangan kemerdekaan, salah satunya melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari sebagai tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujar Agus Sulistyo saat ditemui wartawan.
Dalam sesi tersebut, para santri mendapat pemahaman mendalam tentang prinsip demokrasi, tugas penyelenggara pemilu, mekanisme pengawasan partisipatif oleh Bawaslu, serta berbagai tantangan demokrasi di era digital. Materi mencakup bahaya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan kampanye hitam yang kerap mengancam integritas pemilu.
Bawaslu juga memaparkan data terkini mengenai penggunaan internet dan media sosial, serta potensi besar pemilih pemula dan Generasi Z dalam menentukan arah masa depan demokrasi Indonesia. Agus mengapresiasi tingginya antusiasme para santri yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kritis seputar peran generasi muda, kepemiluan, serta strategi melawan disinformasi.
Baca juga: Tragedi Tak Terduga: Petugas Kebersihan Karanganyar Ditemukan Meninggal di Bangunan Bekas TPS
“Senang rasanya karena antusiasme para santri sangat tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal ini tampak dari keaktifan mereka dalam sesi diskusi dengan mengajukan berbagai pertanyaan kritis,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa pesantren memegang peranan krusial dalam mencetak generasi muda berintegritas. Santri tidak hanya menjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga dapat menjadi pelopor literasi demokrasi, penyebar informasi akurat, serta benteng utama menolak politik uang, hoaks, dan ujaran kebencian.
Demokrasi yang sehat, menurut Agus, membutuhkan generasi muda yang kritis, berintegritas, dan berani mengambil peran aktif. Melalui program Goes to Pesantren, Bawaslu Solo berharap dapat terus memperkuat kolaborasi dengan lembaga pendidikan Islam untuk menanamkan budaya demokrasi yang jujur, adil, dan berintegritas sejak dini. Dengan demikian, para santri diharapkan menjadi agen pengawasan partisipatif sekaligus pelopor demokrasi di tengah masyarakat luas.
Pewarta: Sumanto
Tagline: #MerawatDemokrasi, #BawasluSolo, #SantriPejuangDemokrasi, #GenerasiZBerintegritas, #PesantrenUntukBangsa,

