RI News. Semarang, 15 April 2026 – Konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran telah mengguncang fondasi pemulihan ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook terbarunya merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi zona euro menjadi hanya 1,1 persen untuk tahun 2026, turun signifikan dari estimasi sebelumnya sebesar 1,4 persen.
Revisi ini mencerminkan dampak langsung dari lonjakan harga energi akibat blokade Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur minyak di kawasan tersebut. Menurut IMF, gangguan pasokan energi ini telah menghentikan momentum pemulihan yang sempat menunjukkan ketahanan terhadap berbagai tekanan perdagangan proteksionis di tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menekankan bahwa meskipun ekonomi global sempat menunjukkan daya tahan, krisis energi saat ini membawa risiko yang lebih dalam, terutama bagi kawasan yang bergantung tinggi pada impor gas dan minyak. Zona euro, yang masih bergulat dengan dampak sisa invasi Rusia ke Ukraina, kini menghadapi tantangan ganda: inflasi yang melonjak dan penurunan output industri.

Analis investasi Lindsay James dari Quilter menyatakan, “Semakin lama konflik berlanjut, semakin besar ancaman resesi yang mengintai.” Ia menambahkan bahwa meskipun ada harapan guncangan ekonomi bersifat sementara, ketegangan yang masih tinggi pasca-gencatan senjata sementara membuat harga minyak dan gas kemungkinan tetap elevated dalam waktu dekat.
Bagi 19 negara anggota zona euro, lonjakan biaya energi hingga 19 persen menjadi beban berat. Negara-negara ini kekurangan kemandirian energi dibandingkan kekuatan ekonomi besar lainnya, sehingga industri manufaktur—tulang punggung perekonomian kawasan—sangat rentan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat makro, tetapi juga mengancam lapangan kerja dan daya saing Eropa di pasar global.
Sementara itu, inflasi global diproyeksikan naik hingga 4,4 persen akibat gejolak ini. Di Ukraina, yang masih menghadapi invasi Rusia, inflasi mencapai 7,9 persen pada Maret lalu. Gubernur Bank Nasional Ukraina menggambarkan situasi negaranya sebagai “berjalan di atas pisau silet”, di mana upaya pertahanan dalam negeri harus diseimbangkan dengan tekanan harga eksternal.
Baca juga : Amnesti Migran Spanyol 2026: Strategi Berani Integrasi Tenaga Kerja di Tengah Krisis Demografi Eropa
Di sisi lain, Amerika Serikat mengalami pemangkasan proyeksi pertumbuhan menjadi 2,3 persen, meski dampak tarif perdagangan ternyata tidak seburuk perkiraan awal. Sebaliknya, Rusia justru mendapat sedikit revisi positif ke 1,1 persen berkat pendapatan ekspor minyak yang lebih tinggi. Fenomena ini memperlihatkan kontras tajam antara negara pengekspor dan pengimpor energi, di mana negara-negara di Afrika Sub-Sahara juga mengalami penyusutan bantalan fiskal mereka.
IMF tetap waspada terhadap risiko jangka panjang. Meskipun skenario acuan (reference scenario) mengasumsikan konflik tidak berlarut-larut dan gangguan energi mereda pada paruh kedua 2026, lembaga ini memperingatkan adanya “skenario berat” jika volatilitas energi berlanjut hingga 2027. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan global bisa anjlok hingga 2 persen, memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjinakkan inflasi yang membandel.

Para ekonom menilai, krisis ini bukan hanya gangguan sementara, melainkan pengingat akan kerapuhan arsitektur energi Eropa dan pentingnya mempercepat diversifikasi sumber energi serta investasi dalam teknologi hijau. Tanpa langkah struktural yang cepat, pemulihan pasca-pandemi di kawasan maju bisa terancam mundur lebih jauh, dengan implikasi sosial-ekonomi yang luas.
Berita ini disusun berdasarkan analisis mendalam dari laporan IMF terbaru, dengan penekanan pada perspektif jangka panjang dan keberlanjutan ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik.
Pewarta : Setiawan Wibisono

