RI News. Washington – Presiden Donald Trump kembali menunjukkan sinyal ambigu dalam pendekatan kebijakan luar negerinya terhadap Taiwan. Pada Jumat lalu, Trump menyatakan tetap terbuka untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te, meski China secara tegas mendesak agar komunikasi semacam itu tidak terjadi.
Pernyataan Trump muncul hanya beberapa waktu setelah ia bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Saat itu, Trump sempat menyebut kemungkinan dialog langsung dengan Lai sambil mempertimbangkan paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS yang telah disetujui Kongres. Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa penjualan senjata ke Taiwan dapat dijadikan sebagai “kartu tawar-menawar” dalam strategi politik Pasifik Amerika Serikat.
Langkah tersebut berpotensi menjadi dialog langsung pertama antara presiden AS dan presiden Taiwan yang sedang menjabat dalam beberapa dekade terakhir. Beijing memandangnya sebagai provokasi serius yang dapat mengganggu kestabilan hubungan AS-China. Kedutaan Besar China di Washington menyampaikan bahwa komunikasi langsung seperti itu berisiko merusak kemajuan hubungan bilateral yang sensitif dan meminta Washington menangani isu Taiwan dengan kehati-hatian tertinggi.

Insiden ini mengingatkan pada tahun 2016 ketika Trump, saat masih presiden terpilih, menerima telepon ucapan selamat dari Presiden Tsai Ing-wen. Saat itu pun China bereaksi keras. Kini, di tengah ketegangan yang semakin meningkat, Xi Jinping disebut telah memperingatkan Trump bahwa isu Taiwan merupakan “masalah paling penting” dalam hubungan kedua negara. Tanpa penanganan yang tepat, kata Xi, bentrokan hingga konflik terbuka bisa terjadi.
Para analis menilai pendekatan Trump kali ini menimbulkan ambiguitas yang lebih besar. Meski Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah, pernyataan Trump yang menyebut penjualan senjata sebagai alat negosiasi justru menimbulkan kekhawatiran di Taipei. Pakar China Craig Singleton dari Foundation for Defense of Democracies menyebut bahwa kombinasi ketidakpastian ini menciptakan dinamika yang kurang diinginkan oleh Taiwan.
Sementara itu, jika telepon dengan Lai terealisasi, Presiden Taiwan disebut akan menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan bagi keamanan global. Lai juga berencana menyampaikan bahwa peningkatan anggaran pertahanan Taiwan merupakan respons langsung terhadap ancaman yang semakin nyata dari China.
Baca juga : Pelanggaran Gencatan Senjata: Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Perwira Tinggi Militer Lebanon
Kebijakan “One China” yang dianut AS sejak 1979 tetap menjadi kerangka utama, namun Washington terus mendukung kemampuan pertahanan Taiwan secara informal. Paket senjata yang tertunda menjadi ujian nyata apakah retorika Trump akan diikuti tindakan konkret atau hanya menjadi bagian dari strategi tawar-menawar yang lebih luas.
Edgard Kagan, mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, menilai bahwa membatalkan telepon langsung dengan Lai justru bisa memberi ruang bagi Trump untuk melanjutkan penjualan senjata tanpa memicu reaksi berlebihan dari Beijing. Dengan demikian, AS dapat tetap mendukung Taiwan sekaligus menjaga stabilitas hubungan dengan China.
Situasi ini mencerminkan kompleksitas diplomasi di kawasan Indo-Pasifik: antara komitmen strategis terhadap mitra demokratis dan kebutuhan menjaga hubungan dengan kekuatan besar seperti China. Bagaimanapun, setiap langkah yang diambil Trump akan berdampak tidak hanya pada Taipei dan Beijing, tetapi juga pada kestabilan keamanan regional secara keseluruhan.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #TrumpTaiwan, #USTaiwanRelations, #KeteganganASChina, #LaiChingte, #SelatTaiwan, #GeopolitikIndoPasifik, #PenjualanSenjataTaiwan,

