RI News. Jakarta – Serangan udara Israel di Lebanon selatan kembali memicu ketegangan regional hanya beberapa hari setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata baru. Serangan tersebut menewaskan sembilan orang, termasuk tiga anggota militer Lebanon, menurut pernyataan resmi Tentara Lebanon dan media pemerintah setempat.
Presiden Lebanon Joseph Aoun dengan tegas menyebut serangan ini sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Menurutnya, aksi tersebut terjadi di tengah eskalasi yang terus berlangsung dan mengancam stabilitas serta keamanan di wilayah selatan Lebanon.
Sebuah serangan udara menargetkan kendaraan di jalur penghubung antara Kota Nabatiyeh dan Kota Marjayoun, menewaskan seorang brigadir jenderal, seorang kapten, serta seorang prajurit lainnya. Serangan terpisah di Desa Saksakiyah menewaskan enam warga sipil dan melukai empat orang lainnya. Tentara Lebanon mengecam agresi Israel yang dinilai terus-menerus, disengaja, dan berulang sebagai upaya untuk menggagalkan segala proses penyelesaian damai yang mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki.

Sementara itu, militer Israel membenarkan serangan terhadap kendaraan tersebut dengan alasan kendaraan itu bergerak mencurigakan menuju posisi pasukannya di dekat Desa Kfar Tibnit. Israel mengklaim telah menerima indikasi kuat bahwa kelompok Hezbollah akan melancarkan serangan dari area tersebut. Namun, Tel Aviv menegaskan bahwa operasi mereka ditujukan khusus terhadap Hezbollah, bukan terhadap institusi militer resmi Lebanon.
Di sisi lain, militer Israel juga melaporkan gugurnya dua tentara mereka di Lebanon selatan, meski tanpa merinci waktu kejadiannya.
Gencatan senjata terbaru yang dimediasi Amerika Serikat ini semula diharapkan dapat meredakan konflik. Namun, Hezbollah menolak kesepakatan tersebut. Pemerintah Lebanon sendiri menuduh kelompok tersebut telah menyeret negara ke dalam perang yang tidak diinginkan. Hingga kini, pasukan Israel telah menguasai sekitar seperlima wilayah Lebanon — pendalaman terjauh sejak berakhirnya pendudukan Israel periode 1982–2000.
Baca juga : Leo XIV di Spanyol: Paus Amerika yang Menyuarakan Perdamaian di Tengah Badai Polarisasi Eropa
Konflik yang pecah sejak 2 Maret lalu telah menelan lebih dari 3.500 korban jiwa di pihak Lebanon dan mengakibatkan lebih dari satu juta penduduk mengungsi. Di pihak Israel, sedikitnya 31 tentara dan tiga warga sipil tewas.
Pada Jumat, Presiden Aoun bersama Perdana Menteri Lebanon menyampaikan kritik keras terhadap Iran yang menentang kesepakatan gencatan senjata. Mereka menekankan agar Teheran tidak menjadikan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam diplomasi dengan Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membalas dengan menyatakan bahwa Iran bukanlah pihak yang menduduki Lebanon, melainkan Israel yang menjadi musuh sejati.
Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata di tengah kepentingan geopolitik yang kompleks antara Israel, Hezbollah, Lebanon, dan Iran.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #IsraelLebanon, #GencatanSenjata, #Hezbollah, #KonflikTimurTengah, #PelanggaranKedaulatan, #JosephAoun, #MiliterLebanon,

