RI News. Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah mengkaji peluang impor nikel dari Filipina sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pasokan bahan baku industri baterai kendaraan listrik (EV). Rencana ini akan menjadi salah satu agenda penting dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada 7-8 Mei 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kajian impor bukan dimaksudkan untuk investasi Indonesia di Filipina, melainkan sebagai opsi suplai cadangan apabila terjadi kekurangan bahan baku domestik.
“Bukan berarti kerja sama untuk kita investasi di sana, tapi mereka (Filipina) mungkin bisa menyuplai kalau kita kekurangan bahan bakunya. Itu bisa disuplai dari mana saja,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Menurut Bahlil, isu energi menjadi salah satu fokus utama KTT ASEAN di Filipina, bersama dengan ketahanan pangan kawasan. “Tuan rumahnya Filipina, isunya itu ada dua. Yang pertama adalah isu pangan dan yang kedua adalah energi, di mana energi kita akan membangun satu kekuatan energi di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.
Pembahasan nikel muncul seiring lonjakan permintaan bahan baku untuk baterai kendaraan listrik global. Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia, sedang agresif membangun ekosistem industri baterai EV terintegrasi dari hulu hingga hilir. Namun, dinamika pasar dan kebutuhan industri yang terus meningkat mendorong pemerintah untuk membuka opsi diversifikasi pasokan melalui kerja sama regional.
Bahlil menekankan pentingnya penguatan kolaborasi energi di Asia Tenggara. Tidak semua negara di kawasan memiliki kapasitas pengolahan dan industri hilir sekuat Indonesia. “Terkait dengan nikel, Indonesia membuka diri saja. Jadi, itu tidak ada masalah sebenarnya, secara B2B (Business to Business). Toh industri kita banyak,” imbuhnya.
Pendekatan ini mencerminkan strategi Indonesia yang tidak hanya bergantung pada produksi domestik, tetapi juga membangun jaringan suplai regional yang resilien. Dengan cadangan nikel yang melimpah, Indonesia berpotensi menjadi pusat pengolahan dan manufaktur baterai di Asia Tenggara, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar kawasan.
Kajian impor nikel dari Filipina diharapkan dapat mendukung target pengembangan industri baterai nasional yang lebih stabil. Saat ini, Indonesia telah menarik investasi besar dari berbagai perusahaan global untuk membangun pabrik pengolahan nikel, prekursor, katoda, hingga sel baterai. Ketersediaan pasokan yang andal menjadi kunci agar rantai pasok tidak terganggu oleh fluktuasi produksi domestik atau permintaan ekspor yang tinggi.
Di tingkat regional, inisiatif ini sejalan dengan semangat KTT ASEAN untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan ketahanan energi. Kolaborasi antarnegara ASEAN di sektor mineral kritis dinilai strategis menghadapi transisi energi global menuju kendaraan listrik dan teknologi hijau.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Filipina mendatang menjadi momentum penting untuk membahas detail kerja sama ini, termasuk mekanisme perdagangan B2B yang saling menguntungkan serta standar lingkungan dan keberlanjutan dalam rantai pasok nikel.
Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri baterai global, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan arsitektur energi yang lebih terintegrasi di Asia Tenggara.
Pewarta: Yogi Hilmawan


