RI News. Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka seluruh gudang penyimpanan beras milik pemerintah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebenaran data stok cadangan beras nasional yang kini mencapai sekitar 5,2 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan.
Dalam pernyataannya di Jakarta pada Kamis, Mentan Amran menegaskan bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia bebas mendatangi dan memeriksa gudang-gudang tersebut. “BEM seluruh Indonesia, kami bebaskan bertanya kepada gudang-gudang karena gudang kita sudah full. Itu stok beras kita tertinggi selama Indonesia merdeka, itu 5,2 juta ton,” ujarnya.
Menurut Amran, pencapaian ini jauh melampaui kondisi sebelumnya. Cadangan beras pemerintah yang dulu hanya sekitar 2,6 juta ton kini telah berlipat ganda. Ia juga menyoroti tantangan infrastruktur, di mana kapasitas gudang nasional sebelumnya hanya mampu menampung sekitar 3 juta ton, namun kini berhasil menyimpan hingga 5 juta ton. “Kapasitas gudang hanya 3 juta ton, sekarang 5 juta ton. Ini luar biasa,” katanya.

Peningkatan stok beras tersebut, tegas Amran, diraih sepenuhnya melalui produksi dalam negeri tanpa tambahan impor. “Ada yang mengatakan ini diragukan. Gimana diragukan? Impor tidak ada. Tanda tangannya kan dari saya dengan Menteri Perdagangan. Tidak ada impor beras, clear,” tegasnya.
Keberhasilan ini didukung oleh data dari lembaga kredibel baik nasional maupun internasional, termasuk Badan Pusat Statistik (BPS), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), serta United States Department of Agriculture (USDA). Amran menilai laporan-laporan tersebut membuktikan peningkatan produksi pangan nasional yang signifikan, sehingga keraguan terhadap stok beras pemerintah dianggap tidak berdasar.
“Mereka yang mengatakan tidak swasembada. Masa ahli pertanian sedunia mau disalahkan oleh satu orang individu oknum? Enggak mungkin,” sambung Amran.
Lebih lanjut, Kementerian Pertanian mencatat bahwa Indonesia tidak hanya berhasil pada komoditas beras, melainkan juga telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis lainnya, yaitu gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Dengan mengundang mahasiswa untuk melakukan pengecekan langsung, pemerintah berharap dapat membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan cadangan pangan nasional. Langkah transparansi ini sekaligus menjadi respons terhadap berbagai pertanyaan dan skeptisisme yang beredar di masyarakat terkait ketahanan pangan Indonesia saat ini.
Pewarta : Yogi Hilmawan


