RI News. Bogotá – Gelombang serangan bersenjata yang melibatkan bahan peledak dan drone kembali menyulut kekhawatiran keamanan di Kolombia barat daya, hanya beberapa pekan sebelum pemilihan presiden 31 Mei 2026. Dalam waktu kurang dari tiga hari, kelompok pemberontak dilaporkan melakukan 26 aksi kekerasan, termasuk ledakan dahsyat di jalan raya utama yang menewaskan puluhan orang.
Serangan paling mematikan terjadi pada Sabtu lalu di terowongan El Túnel, Jalan Raya Pan-Amerika, antara kota Cali dan Popayán, wilayah Cauca. Ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 19–21 orang dan melukai puluhan lainnya, termasuk warga sipil yang sedang melintas. Pihak berwenang langsung menuding kelompok FARC-EMC, faksi disiden mantan gerilyawan FARC yang dipimpin oleh Néstor Vera alias Iván Mordisco.
Wilayah Cauca dan Valle del Cauca memang lama menjadi pusat konflik. Kelompok bersenjata ilegal memandang daerah ini strategis karena menjadi jalur perdagangan narkoba dan lokasi pertambangan emas ilegal, serta ladang koka sebagai bahan baku kokain. Selama dua tahun terakhir, FARC-EMC diketahui kerap menggunakan serangan drone dan bom mobil untuk melawan operasi militer pemerintah di Canyon Micay, sebuah kawasan terpencil yang dikuasai kelompok tersebut.

Di bawah pemerintahan Presiden Gustavo Petro — yang sendiri berlatar belakang gerilyawan — Kolombia menerapkan kebijakan “perdamaian total”. Strategi ini menawarkan gencatan senjata dan dialog dengan berbagai kelompok pemberontak yang tersisa. Namun, banyak analis politik menilai pendekatan ini justru gagal.
“Pemerintah terlalu naif,” ujar Javier Garay, profesor ilmu politik Universitas Externado. Menurutnya, kelompok bersenjata memanfaatkan masa gencatan senjata untuk mereorganisasi kekuatan, memperkuat kendali wilayah, memungut “pajak” dari penduduk, dan merekrut paksa anak muda.
FARC-EMC sempat masuk ke meja perundingan pada akhir 2023, tetapi faksi pimpinan Mordisco keluar pada April 2024 dan sejak itu meningkatkan serangan. Analis dari International Crisis Group, Elizabeth Dickinson, menyebut kelompok ini sangat kuat di Cauca dan Valle del Cauca karena berebut kendali rute narkoba dan tambang emas ilegal. Serangan terkini, menurutnya, merupakan upaya menunjukkan kemampuan melakukan “perang asimetris” yang berkelanjutan.
Kekerasan kali ini semakin mempertajam perdebatan politik menjelang pemilu. Presiden Petro yang tidak boleh mencalonkan diri lagi karena dibatasi konstitusi, telah berusaha menunjukkan keberhasilan pemerintahannya dalam memerangi narkoba. Ia menyebut luas tanaman koka berhasil ditekan meski masih mencapai 258.000 hektar pada akhir 2025.
Kandidat dari partai pemerintah, Senator Iván Cepeda, berjanji melanjutkan jalur dialog dan “perdamaian total”. Ia mengecam keras serangan terbaru dan mendesak aparat menyelidiki kemungkinan adanya upaya mengganggu proses pemilu, terutama di wilayah yang menjadi basis dukungan politik mereka.
Sementara itu, kandidat konservatif Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia menyerukan pendekatan yang lebih tegas. Mereka berpendapat pemerintah harus meningkatkan tekanan militer terhadap kelompok bersenjata sebelum kembali ke meja perundingan.

Analis risiko politik Sergio Guzmán melihat serangan ini akan dimanfaatkan oleh kedua kubu. Pendukung pemerintah akan menjadikannya alasan untuk mempercepat kesepakatan damai, sementara pihak oposisi akan menggunakannya sebagai bukti bahwa pendekatan lunak sudah tidak lagi memadai.
Dengan pemilu yang tinggal hitungan minggu, kekerasan di barat daya Kolombia tidak hanya menguji ketahanan keamanan negara, tetapi juga menjadi ujian krusial bagi masa depan strategi perdamaian Kolombia pasca-konflik.
Situasi ini mengingatkan kembali bahwa meski perjanjian damai 2016 telah ditandatangani, perdamaian yang sesungguhnya di Kolombia masih jauh dari kata selesai.
Pewarta : Setiawan Wibisono

