RI News. Jakarta – Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi berjalan dengan langkah biasa di tengah dunia yang semakin tidak menentu. Perencanaan pembangunan yang sistematis, terukur, dan terintegrasi menjadi kunci utama untuk menghadapi dinamika global yang penuh gejolak, mulai dari ketegangan perdagangan hingga persaingan teknologi yang semakin tajam.
Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi (Musrenbangprov) Jawa Barat yang digelar di Bandung, Febrian menggambarkan kondisi dunia saat ini sebagai arena di mana rantai pasok global yang dulu dianggap stabil kini menjadi rapuh. Kompetisi antarnegara tidak lagi sekadar ketat, melainkan cenderung menuju konflik, sementara kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah menjadi senjata penentu dalam perebutan keunggulan ekonomi dan geopolitik.
“Kita masih diberikan kesempatan untuk berhenti sejenak, duduk bersama, dan memikirkan arah ke depan. Dalam ketidakpastian seperti sekarang ini, forum seperti Musrenbang menjadi semakin penting,” ujar Febrian, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, tantangan tidak hanya datang dari luar negeri. Di dalam negeri, Indonesia masih dihadapkan pada produktivitas yang perlu ditingkatkan secara signifikan, struktur ekonomi yang belum cukup kuat, serta adopsi teknologi yang belum merata di berbagai wilayah. Kondisi ini menuntut Indonesia untuk tidak sekadar bertahan, melainkan melakukan lompatan besar.
“Di situasi seperti ini, kita tidak punya ruang untuk berjalan biasa-biasa saja. Kita membutuhkan lompatan. Namun, lompatan hanya bisa terjadi jika kita memiliki arah yang jelas dan langkah yang selaras,” tegas Febrian.
Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 6,3 hingga 7,5 persen. Angka tersebut menjadi batu loncatan menuju target jangka panjang pertumbuhan 8 persen. Jawa Barat, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar dan kontribusi ekonomi yang signifikan terhadap PDB nasional, dipandang memiliki peran strategis dalam mewujudkan target tersebut.
Baca juga : Prabowo Dorong Percepatan Hilirisasi dan Energi dari Sampah: Sinergi Pasca-Diplomasi Internasional
Febrian menekankan bahwa di era ketidakpastian, yang membedakan pemenang bukanlah ukuran negara, melainkan tingkat kesiapannya. Kesiapan itu, katanya, hanya lahir dari perencanaan yang kuat, dukungan data yang terpercaya, serta kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Yang membedakan bukan siapa yang paling besar, tetapi siapa yang paling siap. Kesiapan itu lahir dari perencanaan yang kuat, data yang terpercaya, dan kerja sama yang solid,” pungkasnya.
Pernyataan Wakil Menteri ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Musrenbangprov bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum krusial untuk menyelaraskan visi nasional dengan kebutuhan daerah, khususnya dalam menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan iklim geopolitik yang semakin cepat.
Pewarta : Diki Eri

