RI News. Vatican City — Paus Leo XIV, pontifex maximus pertama yang lahir di Amerika Serikat, menyampaikan pesan harapan dan perdamaian yang kuat saat memimpin Misa Paskah pertamanya pada Minggu (5 April 2026). Dari loggia Basilika Santo Petrus, ia mengajak seluruh umat manusia meletakkan senjata dan memilih jalan dialog, bukan dominasi, di tengah eskalasi konflik bersenjata yang terus melanda berbagai wilayah.
Dalam homilinya, Paus Leo XIV menekankan makna kebangkitan Yesus Kristus sebagai simbol transformasi hati manusia. “Marilah kita biarkan hati kita diubah oleh kasih-Nya yang tak terukur. Hendaknya mereka yang memegang senjata meletakkannya. Hendaknya mereka yang berkuasa memicu perang memilih perdamaian—bukan perdamaian yang dipaksakan oleh kekerasan, melainkan yang dibangun melalui dialog tulus,” serunya.
Berbeda dengan tradisi Urbi et Orbi yang biasanya menyebutkan secara eksplisit berbagai penderitaan dunia, Paus Leo XIV kali ini menghindari pendekatan itu. Ia hanya menggarisbawahi sikap acuh tak acuh umat manusia terhadap korban jiwa, dampak kebencian, serta kerugian ekonomi dan sosial akibat konflik. Ia mengutip mendiang Paus Fransiskus yang pernah menyebut “dahaga besar akan kematian dan pembunuhan” yang disaksikan setiap hari.

Perayaan Paskah tahun ini berlangsung di bawah bayang-bayang dua konflik besar: operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memasuki bulan kedua, serta invasi Rusia di Ukraina yang masih berlanjut. Pembatasan keamanan ketat di Yerusalem dan sekitarnya akibat ancaman serangan rudal telah membuat perayaan di Gereja Makam Suci menjadi lebih sederhana. Upacara tradisional dikurangi, sementara perayaan keagamaan lain seperti Ramadan, Idul Fitri, dan Passover Yahudi juga terdampak.
Di Gaza, komunitas Katolik kecil tetap menggelar Misa Paskah di Gereja Holy Family dengan penuh sukacita sederhana. Umat berbaris untuk mencium gambar Yesus sambil bernyanyi, meski setelah hampir tiga tahun penderitaan. “Ada kelegaan besar setelah gencatan senjata. Kami akhirnya bisa merayakan hari suci dengan lebih tenang,” ujar George Anton, warga Gaza City.
Sementara itu, di Teheran, umat Kristen Armenia berusaha mempertahankan rasa normalitas di tengah serangan udara harian. Di Katedral St. Sarkis, keluarga saling berpelukan dan anak-anak bertukar telur Paskah berwarna. Juanita Arakel, seorang guru bahasa Inggris berusia 40 tahun, mengatakan, “Anak-anak kami tidak memahami kompleksitas politik. Mereka hanya butuh merasa aman dan normal.”
Paus Leo XIV juga menghidupkan kembali beberapa tradisi yang sempat ditinggalkan, seperti menyapa umat dalam 10 bahasa termasuk Arab, Mandarin, dan Latin, serta mengumumkan vigil doa khusus untuk perdamaian pada 11 April mendatang. Ia juga memimpin ritual mencuci kaki imam pada Kamis Putih dan memikul salib penuh selama Jalan Salib pada Jumat Agung—sebuah gestur yang menunjukkan kedekatannya dengan warisan pastoral.
Sebagai paus pertama dari Amerika Serikat (lahir di Chicago dengan nama Robert Francis Prevost), latar belakangnya sebagai misionaris di Peru selama puluhan tahun memberinya perspektif yang unik tentang penderitaan masyarakat pinggiran dan pentingnya solidaritas lintas budaya. Pesan perdamaiannya kali ini mencerminkan keprihatinan mendalam atas bagaimana konflik bersenjata tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga merusak fondasi kemanusiaan dan kehidupan beragama.

Analisis para pengamat Vatikan menyebut bahwa pendekatan Paus Leo XIV yang lebih reflektif—tanpa menyebut konflik secara spesifik—merupakan upaya strategis untuk menjaga netralitas moral sekaligus mendorong semua pihak terlibat dalam dialog yang substantif. Di tengah dunia yang semakin terpecah, seruannya menjadi pengingat bahwa kebangkitan Paskah bukan sekadar ritual, melainkan panggilan nyata untuk membangun perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Perayaan Paskah tahun ini sekaligus menjadi pengingat bahwa, meski diwarnai pembatasan dan penderitaan, semangat harapan dan ketahanan iman tetap hidup di berbagai belahan dunia—dari Gaza yang luka hingga Teheran yang diguncang, hingga Lapangan Santo Petrus yang dipenuhi puluhan ribu umat.
Pewarta : Setiawan Wibisono

