RI News. Semarang, 6 April 2026 — Lebih dari enam dekade lamanya, sebuah publikasi sederhana dari lembaga intelijen Amerika Serikat menjadi salah satu rujukan paling diandalkan bagi pelajar, peneliti, dan masyarakat sipil di seluruh dunia untuk memahami realitas negara-negara dan masyarakat global. Kini, sumber itu resmi ditutup, meninggalkan kekosongan yang memaksa kita merefleksikan kembali makna “pengetahuan bersama” di tengah banjir informasi digital.
Pada 4 Februari 2026, CIA secara mendadak menghentikan publikasi The World Factbook, database terbuka yang selama ini menyajikan data dasar tentang geografi, demografi, ekonomi, militer, hingga adat istiadat berbagai negara. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, tidak ada penjelasan panjang, hanya sebuah pesan perpisahan singkat yang mendorong pembaca untuk “tetap penasaran” dengan dunia.
Bagi generasi yang dibesarkan setelah era 1970-an, Factbook bukan sekadar buku atau situs web. Ia adalah jendela pertama bagi banyak orang untuk memahami dunia di luar batas negara masing-masing. Dari siswa SMA yang mengerjakan tugas ilmu sosial, mahasiswa yang mempersiapkan simulasi sidang PBB, hingga peneliti yang membutuhkan data komparatif — semuanya pernah mengandalkannya karena kemudahan akses, konsistensi, dan sifatnya yang gratis.

Penutupan ini terjadi di tengah perubahan prioritas lembaga intelijen yang semakin menekankan misi inti keamanan nasional. Namun, di balik alasan administratif tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendalam: Apakah pemerintah masih memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pengetahuan dasar yang netral dan terverifikasi kepada publik? Atau, di era kecerdasan buatan dan mesin pencari, tugas semacam itu sudah sepenuhnya beralih ke tangan swasta dan algoritma?
Sejumlah akademisi menilai bahwa Factbook, meski disusun oleh lembaga dengan kepentingan strategis, telah berfungsi sebagai standar bersama yang relatif dapat diandalkan. “Kehilangannya bukan hanya soal hilangnya satu situs web, melainkan hilangnya titik acuan yang dulu memungkinkan jutaan orang dari berbagai latar belakang untuk berbicara menggunakan data yang sama,” ujar seorang pengamat studi global.
Kini, informasi tentang negara-negara masih tersebar luas — baik melalui perpustakaan universitas, organisasi internasional, maupun sumber terbuka lainnya. Namun, kehilangan satu tempat terpadu membuat proses pencarian menjadi lebih rumit dan rentan terhadap bias serta ketidakakuratan. Di saat yang sama, maraknya “fakta alternatif” dan konten buatan AI semakin menyulitkan masyarakat untuk membedakan mana yang dapat dipercaya.
Baca juga : Zelenskyy Peringatkan Perang Iran Menggerus Dukungan Barat: Ukraina Berupaya Diplomasi Baru di Timur Tengah
Penutupan Factbook juga mengingatkan kita pada sejarah panjang hubungan antara intelijen, transparansi, dan citra publik. Lahir dari kebutuhan pasca-Perang Dunia II dan Perang Dingin, publikasi ini kemudian dibuka untuk umum pada 1975 — di masa ketika lembaga intelijen sedang menghadapi sorotan keras atas berbagai penyalahgunaan wewenang. Kehadirannya selama puluhan tahun menjadi semacam jembatan antara dunia rahasia intelijen dengan kebutuhan masyarakat sipil akan pengetahuan.
Dengan hilangnya Factbook, dunia memasuki fase baru di mana akses terhadap “fakta dasar” tentang planet kita tidak lagi dijamin oleh satu institusi tunggal. Bagi dunia pendidikan dan penelitian, ini menjadi panggilan untuk memperkuat literasi informasi dan mengembangkan sumber-sumber alternatif yang lebih beragam dan transparan.

Sementara itu, bagi masyarakat biasa, pesan “tetaplah penasaran” yang disampaikan dalam pengumuman perpisahan itu kini terasa lebih berat. Karena rasa penasaran saja tidak lagi cukup — diperlukan kemampuan yang lebih tajam untuk menyaring, memverifikasi, dan memahami dunia yang semakin kompleks.
Di tengah perubahan cepat geopolitik dan teknologi, penutupan sebuah referensi lama seolah menjadi pengingat: pengetahuan yang dulu dianggap given, kini harus diperjuangkan kembali setiap hari.
Pewarta : Setiawan Wibisono

