RI News. Dubai, United Arab Emirates, 29 Maret 2026 – Pemberontak Houthi yang didukung Iran secara resmi terlibat dalam konflik Timur Tengah yang telah berlangsung sebulan. Pada Sabtu (28/3), kelompok tersebut mengklaim telah meluncurkan rudal balistik menuju sasaran militer Israel di wilayah selatan. Militer Israel berhasil mencegat proyektil tersebut, tetapi langkah ini menandai perluasan front baru dalam perang yang sudah menimbulkan dampak ekonomi dan kemanusiaan yang luas.
Keterlibatan Houthi dikhawatirkan akan mengganggu lalu lintas pelayaran internasional di Selat Bab el-Mandeb, jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Selat ini biasanya dilalui sekitar 12 persen perdagangan dunia, termasuk pasokan minyak dan barang dagang utama. Jika serangan terhadap kapal-kapal komersial kembali meningkat seperti pada periode 2023–2025, harga minyak global berpotensi melonjak tajam dan stabilitas keamanan maritim semakin terancam.
Analis senior Yaman dari International Crisis Group, Ahmed Nagi, menyatakan bahwa eskalasi dari Houthi tidak hanya berdampak pada pasar energi, melainkan juga pada keamanan maritim secara keseluruhan. “Dampaknya akan meluas jauh di luar sektor energi,” ujarnya.

Sementara itu, upaya diplomatik mulai digelar. Pakistan akan menjadi tuan rumah pertemuan diplomat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir yang dijadwalkan tiba di Islamabad pada Minggu (29/3) untuk melakukan diskusi mendalam selama dua hari. Pembicaraan ini difokuskan pada upaya meredakan ketegangan regional dan mencari jalan keluar dari konflik yang semakin kompleks.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah melakukan pembicaraan intensif dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan keraguan Tehran terhadap proses diplomatik saat ini. Ia menilai bahwa Amerika Serikat menyampaikan tuntutan yang tidak realistis dan menunjukkan sikap yang kontradiktif.
Di lapangan, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya. Sekitar 2.500 Marinir yang terlatih dalam operasi amfibi telah tiba di kawasan, ditambah dengan setidaknya 1.000 pasukan payung dari Divisi Airborne ke-82. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tetap berupaya mencapai tujuan tanpa mengerahkan pasukan darat dalam skala besar. Meski demikian, lebih dari 300 personel militer AS tercatat terluka, dan belasan di antaranya gugur dalam serangan Iran terhadap pangkalan militer di Arab Saudi.
Baca juga : Sinergi Pendidikan dan Sepak Bola: Kemendikdasmen Dorong Pembinaan Talenta Muda Garuda dari Bangku Sekolah
Iran sendiri melaporkan lebih dari 1.900 korban jiwa di wilayahnya, sementara Israel melaporkan 19 korban. Di Lebanon, korban tewas telah melampaui 1.100 orang sejak invasi Israel di selatan negara itu dimulai. Konflik juga merembet ke Irak, di mana puluhan anggota pasukan keamanan tewas akibat keterlibatan kelompok milisi yang didukung Iran.
Selat Hormuz, arteri utama pasokan minyak dunia, masih menjadi titik krusial. Iran telah mengizinkan sebagian pengiriman bantuan kemanusiaan dan produk pertanian melewati selat tersebut atas permintaan PBB. Namun, Presiden Donald Trump memberikan batas waktu hingga 6 April bagi Iran untuk membuka selat secara penuh, atau menghadapi konsekuensi lebih lanjut.

Keterlibatan Houthi menambah lapisan kerumitan baru, terutama bagi penempatan aset militer AS seperti kapal induk USS Gerald R. Ford yang sedang menjalani perbaikan. Serangan-serangan sebelumnya terhadap kapal induk AS di wilayah tersebut menjadi pelajaran berharga akan risiko eskalasi lebih lanjut.
Perang yang dimulai sejak akhir Februari 2026 ini telah mengganggu pasokan global minyak, gas alam, dan pupuk, serta menyebabkan gangguan signifikan pada lalu lintas udara internasional. Para pengamat memperingatkan bahwa tanpa terobosan diplomatik yang cepat, konflik berpotensi berubah menjadi krisis regional yang lebih destruktif dan berdampak jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Pewarta : Setiawan Wibisono

