RI News. Jakarta – Presiden Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu malam dalam kunjungan yang sarat makna simbolis sekaligus penuh tantangan strategis. Meski Trump berulang kali menyatakan kekagumannya terhadap Presiden Xi Jinping, kunjungan kali ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran serta isu perdagangan yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Berbeda dengan kunjungan perdananya pada 2017 yang penuh kemegahan “state visit-plus”, kali ini Beijing diperkirakan akan menyambut Trump dengan upacara yang lebih terkendali. Gedung Putih mengonfirmasi agenda utama Trump mencakup pertemuan bilateral dengan Xi, kunjungan ke Temple of Heaven, jamuan kenegaraan, serta sesi kerja sambil minum teh. Kedua pemimpin juga akan membahas pembentukan mekanisme dialog ekonomi baru yang disebut Board of Trade, serta potensi kerja sama di sektor energi, kedirgantaraan, dan pertanian.
Trump telah lama memuji Xi sebagai pemimpin kuat yang ia hormati. Namun, para analis menilai dinamika hubungan keduanya kini jauh lebih pragmatis. Jonathan Czin, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, menyatakan bahwa ketegangan akibat isu Iran membuat Beijing enggan mengulang kemewahan protokoler seperti kunjungan sebelumnya.

“Xi Jinping sudah memiliki pemahaman yang lebih matang tentang Trump,” ujar Ali Wyne dari Crisis Group. Menurutnya, China kemungkinan akan berusaha memaksimalkan peluang untuk mendapatkan konsesi ekonomi dan keamanan, terutama mengingat posisi Trump yang kerap menekankan hubungan personal dalam diplomasi.
Kunjungan ini juga terjadi di tengah upaya AS mempertahankan pengaruhnya pasca-konflik Iran. Meski Trump gagal membujuk China untuk secara aktif membuka Selat Hormuz, Beijing turut berperan mendorong gencatan senjata rapuh antara Iran dan pihak-pihak terkait berkat pengaruhnya sebagai pembeli minyak Iran terbesar.
Isu perdagangan tetap menjadi agenda utama. Trump pernah mengumumkan kesepakatan bernilai ratusan miliar dolar AS pada 2017 dan 2020, namun banyak yang tidak terealisasi. Belakangan, kebijakan tarif global Trump memicu respons China berupa pembatasan impor kedelai dan ekspor mineral tanah jarang. Meski ketegangan sempat mereda melalui gencatan senjata perdagangan tahun lalu, kedua negara kini sedang membahas perpanjangan kesepakatan tersebut.
Baca juga : Kehangatan Keluarga: Maia Estianty Sambut Cucu Pertama yang Manis
Gedung Putih menegaskan bahwa Trump lebih berfokus pada hasil konkret daripada simbolisme semata. Juru bicara Anna Kelly menyatakan, “Presiden tidak bepergian tanpa membawa pulang kesepakatan yang bermanfaat bagi Amerika Serikat.”
Kunjungan ke Beijing ini berpotensi menjadi bagian dari serangkaian pertemuan intensif. Trump berencana mengundang Xi ke Gedung Putih, serta kemungkinan bertemu lagi pada KTT APEC di Shenzhen dan KTT G20 di Florida. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa Xi juga tidak gemar bepergian jauh, sehingga tidak semua rencana pertemuan tersebut pasti terlaksana.

Di tengah persiapan pemilu sela AS, China diyakini akan bermain lebih hati-hati. Semakin dekat dengan hari pemungutan suara, leverage Beijing dalam negosiasi diperkirakan akan semakin kuat, terutama seiring ketidakpuasan publik Amerika terhadap beberapa kebijakan ekonomi Trump.
Kunjungan ini mencerminkan kompleksitas hubungan AS-China: persaingan strategis yang ketat, saling ketergantungan ekonomi, serta upaya kedua pemimpin untuk menjaga stabilitas di tengah gejolak global yang semakin tidak terprediksi. Hasil kunjungan ini kemungkinan besar tidak hanya akan memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga lanskap keamanan dan ekonomi kawasan Asia-Pasifik ke depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono


