RI News. Vaux-de-Cernay, Prancis – Pertemuan Menteri Luar Negeri Kelompok Tujuh (G7) di sebuah biara bersejarah abad ke-12 di luar Paris menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang jelas antara Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya Eropa mengenai perang di Iran. Meski demikian, para diplomat sepakat menyerukan penghentian segera serangan terhadap warga sipil serta pemulihan navigasi bebas di Selat Hormuz yang vital bagi pasokan minyak global.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tiba di pertemuan tersebut di tengah kritik keras Presiden Donald Trump terhadap negara-negara NATO yang dianggap tidak cukup mendukung upaya menghadapi Iran. Trump bahkan sempat mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali dalam waktu singkat, meskipun ancaman itu kemudian diperpanjang hingga 6 April mendatang.
Dalam nada yang lebih moderat, Rubio menekankan bahwa Amerika Serikat tidak meminta sekutu untuk ikut serta dalam perang, melainkan mendorong kerja sama internasional untuk menjaga agar selat tersebut tetap terbuka setelah permusuhan berakhir. Ia memperingatkan bahwa Iran berpotensi memberlakukan semacam pungutan tol di perairan tersebut — yang selama ini menjadi jalur 20 persen pasokan minyak dunia — yang dapat menimbulkan dampak ekonomi global yang parah.

“Bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga tidak dapat diterima dan berbahaya bagi stabilitas dunia,” ujar Rubio kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa dunia perlu memiliki rencana bersama untuk mencegah hal tersebut.
Sementara itu, para sekutu Eropa menunjukkan sikap skeptis yang mendalam terhadap perang yang telah berlangsung sekitar empat minggu ini. Beberapa negara Uni Eropa menyatakan tidak pernah diajak konsultasi sebelum aksi militer AS dan Israel diluncurkan.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin menegaskan, “Perang ini bukan perang kami.” Prancis, kata dia, hanya mengambil posisi defensif dan percaya bahwa diplomasi adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan perdamaian.
Baca juga : Strategi Bertahan Iran di Selat Hormuz: Ketika Perang Asimetris Mengguncang Ekonomi Global
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan bahwa negaranya mendukung aksi defensif, tetapi memiliki pendekatan berbeda terhadap aksi ofensif dalam konflik tersebut. Sedangkan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan kesiapan Jerman untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz setelah permusuhan usai, sebagai upaya memperluas dasar kesepakatan bersama di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, yang menjadi tuan rumah pertemuan, menyatakan bahwa G7 telah mengadopsi deklarasi bersama yang menuntut “penghentian segera” serangan terhadap penduduk sipil dan infrastruktur sipil. “Tidak ada pembenaran apa pun untuk sengaja menargetkan warga sipil atau fasilitas diplomatik dalam konflik bersenjata,” tegas Barrot.
Deklarasi tersebut juga menegaskan kembali pentingnya memulihkan navigasi yang aman dan bebas di Selat Hormuz secara permanen. Barrot menambahkan bahwa setelah tujuan militer AS tercapai, misi pengawalan internasional dapat membantu memulihkan lalu lintas kapal secepat mungkin, mengingat setiap hari penutupan selat semakin memperburuk situasi ekonomi global.

Rubio berusaha meredam kekhawatiran meluasnya konflik dengan menyatakan bahwa AS yakin dapat mencapai tujuannya tanpa mengerahkan pasukan darat. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat “tidak meminta siapa pun untuk ikut berperang”, tetapi mengharapkan negara-negara yang paling terdampak penutupan selat untuk ikut berkontribusi, dengan dukungan AS pasca-konflik.
Isu perang Rusia di Ukraina juga menjadi sorotan penting dalam pertemuan tersebut. Para sekutu Eropa khawatir bahwa konflik di Timur Tengah akan mengalihkan perhatian dan sumber daya AS dari komitmen terhadap Ukraina.
Wadephul menegaskan bahwa tidak boleh ada pemotongan dukungan terhadap kemampuan pertahanan Ukraina. Rubio menjawab bahwa hingga saat ini belum ada pengalihan senjata dari Ukraina ke Timur Tengah, meski tidak menutup kemungkinan jika situasi mengharuskan.

Pertemuan G7 di Prancis ini mencerminkan ketegangan transatlantik yang semakin terlihat sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran. Di satu sisi, AS berupaya menjaga momentum strategisnya, sementara sekutu Eropa lebih menekankan pendekatan diplomatik, perlindungan warga sipil, dan stabilitas ekonomi global jangka panjang.
Situasi ini menandakan bahwa meski ada kesepakatan parsial mengenai prinsip kemanusiaan dan kebebasan navigasi, perbedaan pendekatan antara Washington dengan mitra Eropanya masih menjadi tantangan diplomasi utama di tengah krisis Timur Tengah yang terus berkembang.
Pewarta : Setiawan Wibisono

