RI News. Washington – Presiden Donald Trump secara resmi menunda kunjungan diplomatiknya ke China yang telah direncanakan berbulan-bulan. Keputusan ini diambil ketika Washington sedang berupaya keras menarik Beijing dan negara-negara besar lainnya untuk terlibat secara militer dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur vital pasokan minyak dunia.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Oval Office, Selasa lalu, Trump mengumumkan bahwa ia baru akan tiba di Beijing lima hingga enam minggu mendatang, bukan akhir bulan seperti jadwal semula. Ia menyebut kunjungan tersebut akan “direset” agar lebih tepat waktu dengan Presiden Xi Jinping.
“Kami sedang bekerja sama dengan China—mereka tidak keberatan,” ujar Trump. “Saya sangat menantikan bertemu Presiden Xi, dan saya yakin beliau juga demikian.”
Kunjungan ini semula diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat gencatan senjata perdagangan rapuh antara dua negara adidaya. Namun, dinamika perang di Iran telah mengubah segalanya. Hanya beberapa hari setelah Trump mendesak China dan negara lain mengirimkan kapal perang untuk mengamankan pasokan minyak Timur Tengah, ia menyatakan bahwa jadwal perjalanannya bergantung pada respons Beijing.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memerlukan bantuan dari sekutu-sekutu yang menolak permintaannya. Dalam wawancara eksklusif dengan Financial Times pada hari Minggu, ia bahkan menyatakan akan menunda keberangkatan hingga mengetahui sikap China terhadap keamanan Selat Hormuz. Senin pagi, di hadapan wartawan, Trump kembali menjelaskan: “Saya pikir penting bagi saya untuk tetap berada di sini. Jadi mungkin kami menunda sedikit—tidak terlalu lama.”
Menteri Keuangan Scott Bessent, yang baru saja menggelar pembicaraan dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Paris, berusaha meredam spekulasi. Menurutnya, perubahan jadwal murni bersifat logistik, bukan upaya untuk memberikan tekanan politik kepada Beijing.
Desakan Trump kepada negara-negara pengimpor minyak Timur Tengah semakin keras. Ia menyoroti bahwa China memperoleh sebagian besar minyaknya melalui Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat hanya bergantung dalam jumlah sangat kecil. Seruan serupa juga disampaikan kepada Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis—namun hingga kini belum ada satu pun yang merespons positif. China sendiri masih bersikap hati-hati.
“Kami sangat mendorong negara-negara lain yang ekonominya jauh lebih bergantung pada selat ini daripada kami,” tegas Trump di Gedung Putih, Senin. “Sekarang saatnya mereka ikut serta menjaga keamanan selat tersebut.”
Trump membingkai keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam perang Iran sebagai “kebaikan bagi dunia”. Ia berargumen bahwa negara-negara lain kini harus turut menanggung tanggung jawab menjaga jalur perdagangan global. Beberapa pemimpin dunia, bagaimanapun, langsung menolak pendekatan militer Washington.
Dari sisi geopolitik, penundaan ini membawa implikasi besar. Hubungan AS-China sedang berusaha pulih setelah perang dagang yang memicu lonjakan tarif. Gencatan senjata perdagangan selama satu tahun yang disepakati Trump dan Xi musim gugur lalu menjadi dasar rencana kunjungan kenegaraan ini. Kunjungan Trump ke Beijing pada 2017 silam juga menjadi referensi penting. Pekan lalu, Menteri Luar Negeri China menyatakan negaranya mengharapkan “tahun bersejarah” dalam hubungan bilateral, dengan catatan bahwa “sikap China selalu positif dan terbuka—kuncinya adalah Amerika Serikat juga harus bertemu di tengah jalan”.

Di tengah tahun politik yang menegangkan, lonjakan harga minyak akibat perang Iran semakin memperumit posisi Trump. Selain menunda kunjungan ke China, ia juga mencabut sanksi minyak Rusia dan memanfaatkan cadangan minyak strategis Amerika—kebijakan yang dulu sempat ia kritisi sendiri.
Dengan demikian, agenda diplomasi Trump kini bergeser: dari perdagangan ke keamanan energi global. Apakah penundaan ini akan membuka peluang baru bagi negosiasi yang lebih kuat, atau justru memperdalam ketegangan AS-China, masih menjadi pertanyaan besar yang akan terjawab dalam beberapa minggu ke depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

