RI News. Tangerang — Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Banten, memperketat kewaspadaan di seluruh fasilitas kesehatan menyusul potensi masuknya Hantavirus melalui pelaku perjalanan dari luar negeri. Langkah ini diambil untuk memastikan respons cepat terhadap kasus-kasus suspect yang mungkin muncul di masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni menyatakan bahwa pihaknya telah mensosialisasikan panduan pencegahan penyebaran Hantavirus ke seluruh puskesmas dan rumah sakit. Virus ini dapat ditularkan melalui kotoran, urine, maupun air liur hewan pengerat seperti tikus.
“Gejala Hantavirus biasanya muncul antara satu hingga delapan pekan setelah paparan. Awalnya penderita mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan kelelahan yang luar biasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi sesak napas hingga gagal ginjal jika tidak ditangani dengan cepat,” jelas dr. Dini di Tangerang, Rabu.
Menurutnya, Hantavirus termasuk patogen yang sangat berbahaya karena mampu menginfeksi saluran pernapasan hingga ginjal manusia. Oleh karena itu, Pemkot Tangerang juga mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan pribadi dan lingkungan.

Salah satu fokus utama pencegahan adalah menjaga kebersihan lingkungan. “Pemkot Tangerang menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat seperti tikus sebagai langkah pencegahan pertama penyebaran virus Hanta di lingkungan masing-masing,” tegas dr. Dini.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono memberikan penjelasan terkait situasi nasional. Ia memastikan bahwa 23 kasus Hantavirus yang telah terdeteksi di Indonesia sejak 2023 merupakan varian ringan, yaitu Hanta Fever Renal Syndrome (HFRS) dengan tingkat kematian sekitar 15 persen.
“Semuanya adalah Hanta Fever Renal Syndrome yang ringan. Kalau Hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius itu, di Indonesia belum masuk,” ujar Dante.
Baca juga : Wujud Nyata Gotong Royong: Rumah Layak Huni bagi Warga Kulon Progo Semakin Dekat
Dante menambahkan bahwa pola penularan Hantavirus mirip dengan leptospirosis, yaitu melalui perantara hewan pengerat, terutama pada kondisi lingkungan pasca-banjir dengan sanitasi yang kurang baik. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat mobilitas masyarakat yang tinggi pasca-pandemi.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang terus melakukan pemantauan ketat terhadap pasien dengan riwayat perjalanan internasional yang datang dengan gejala demam tidak jelas asal-usulnya. Masyarakat diminta segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala yang mencurigakan dan memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi tikus.
Pemerintah kota juga mengajak seluruh warga untuk secara rutin membersihkan rumah, gudang, dan lingkungan sekitar agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya hewan pengerat. Langkah sederhana ini diharapkan dapat memutus rantai penularan sejak dini.
Pewarta : Vie

