RI News, Washington, 7 Juli 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menekankan tuntutannya agar negara-negara anggota NATO segera merealisasikan komitmen pengeluaran pertahanan hingga 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dalam satu dekade mendatang. Kunjungannya ke Ankara, Turki, kali ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kesungguhan aliansi trans-Atlantik tersebut di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Dalam pertemuan puncak NATO di Ankara, Trump berupaya memastikan bahwa janji yang berhasil ia dapatkan pada KTT tahun lalu di Den Haag tidak sekadar menjadi catatan di atas kertas. Sebagian besar negara Eropa telah menunjukkan respons cepat terhadap seruan Washington, meski di balik itu masih tersisa keraguan tentang kemampuan mereka untuk mewujudkan target ambisius tersebut tanpa bergantung pada payung keamanan Amerika Serikat.
Analis pertahanan melihat langkah Trump ini sebagai bagian dari visi “NATO 3.0” yang mendorong Eropa untuk lebih mandiri dalam menjaga keamanannya sendiri. Hal tersebut sekaligus memungkinkan Amerika Serikat mengalihkan fokus strategisnya ke kawasan lain, termasuk Indo-Pasifik. Namun, transisi ini tidak mudah. Banyak negara Eropa masih bergantung pada kehadiran pasukan dan teknologi pertahanan AS, terutama di tengah ancaman berkelanjutan dari Rusia di Ukraina yang kini memasuki tahun kelima.

Selain isu pengeluaran, agenda KTT Ankara juga menyentuh berbagai isu krusial. Trump dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Pembicaraan dengan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa dan tuan rumah Recep Tayyip Erdogan juga menjadi sorotan, mengingat posisi strategis kedua negara tersebut di Timur Tengah.
Di balik kemajuan komitmen anggaran, para ahli hubungan internasional menilai bahwa realisasi target 5 persen PDB masih menghadapi tantangan serius. Spanyol dan beberapa negara lainnya telah menyuarakan reservasi terhadap target tersebut. Sementara itu, ketegangan personal Trump dengan beberapa pemimpin Eropa seperti Keir Starmer dan Giorgia Meloni kembali mewarnai diplomasi, meski tidak menghentikan dorongan kebijakan pertahanan yang lebih kuat.
Baca juga : Kematian Khamenei Mengguncang Iran: Antara Kesedihan Massal dan Tuntutan Balas Dendam
Kehadiran delegasi senator bipartisan Amerika Serikat di Ankara menunjukkan adanya dukungan lintas partai di Kongres terhadap NATO, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap gaya diplomasi Trump yang kerap blak-blakan. Senator Jeanne Shaheen menegaskan pentingnya menjaga hubungan dengan sekutu Eropa sebagai pilar keamanan dan ekonomi bersama.
Dengan konsep “NATO 3.0”, Trump tampak ingin meninggalkan warisan aliansi yang lebih seimbang beban tanggung jawabnya. Namun, pertanyaan besar tetap: mampukah Eropa benar-benar mandiri dalam menghadapi ancaman keamanan kontinental tanpa dukungan penuh Amerika Serikat?
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #TrumpNATO, #PertahananEropa, #GeopolitikGlobal, #AnkaraSummit, #NATO30, #HubunganTransatlantik,

