RI News. Ukraina, 7 Juli 2026 — Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran menggunakan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Ukraina, khususnya ibu kota Kyiv, pada Senin dini hari. Serangan ini menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai puluhan lainnya, sekaligus semakin mengekspos kerentanan sistem pertahanan udara Ukraina setelah lebih dari empat tahun konflik berlangsung.
Serangan kali ini menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi, di mana seluruh rudal balistik yang diluncurkan Rusia berhasil mencapai sasaran. Kondisi ini memperkuat desakan Ukraina agar sekutu Barat, terutama Amerika Serikat, segera memasok lebih banyak sistem rudal Patriot. Presiden Volodymyr Zelenskyy diperkirakan akan kembali menyuarakan kebutuhan mendesak ini dalam KTT NATO yang akan berlangsung di Ankara, Turki, pekan ini.
Menurut laporan otoritas setempat, 15 warga tewas dan 56 lainnya mengalami luka-luka di Kyiv, sementara di wilayah sekitarnya tercatat tujuh korban jiwa dan 29 orang luka. Petugas darurat masih berupaya mencari korban selamat di bawah reruntuhan gedung apartemen yang menjadi sasaran langsung. Serangan ini diyakini sebagai balasan Rusia atas serangan jarak jauh Ukraina yang telah mengganggu pasokan bahan bakar dan logistik militer Moskow.

Para analis militer menilai bahwa kemajuan teknologi drone Ukraina telah memberi keuntungan taktis di medan perang dalam beberapa bulan terakhir. Namun, Rusia kini secara efektif memanfaatkan kelemahan pertahanan udara Ukraina yang sangat bergantung pada sistem Patriot untuk mengantisipasi rudal balistik. Situasi semakin rumit karena pasokan global rudal pencegat Patriot sedang menipis akibat konflik di Timur Tengah.
Zelenskyy menegaskan bahwa pasukan Ukraina mampu menghadapi drone dan rudal jelajah, tetapi masih kesulitan melawan rudal balistik. Ia menyerukan kepada Amerika Serikat dan Eropa untuk segera memperkuat pertahanan udara Ukraina guna melindungi warga sipil. “Selama rudal Patriot masih tersimpan di gudang sekutu, Rusia akan terus didorong untuk menyerang pemukiman sipil,” ujarnya.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan ditujukan pada fasilitas produksi senjata, perbaikan sistem pertahanan, serta infrastruktur energi di Kyiv dan sekitarnya. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Rusia juga menyatakan akan terus meningkatkan intensitas serangan balasan seiring dengan setiap tambahan bantuan militer Barat ke Ukraina.
Baca juga : Trump Desak NATO ke Level 5%, Eropa Diuji Keseriusan Komitmen Pertahanan
Serangan ini menambah catatan panjang korban sipil dalam konflik tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 16.000 warga sipil Ukraina telah meninggal sejak invasi dimulai. Banyak gedung hunian yang hancur, meninggalkan warga dalam ketakutan dan trauma mendalam.
Sementara itu, Ukraina tidak tinggal diam. Pasukan khususnya berhasil menyerang kilang minyak Omsk di Siberia Barat, yang merupakan kilang terbesar di Rusia. Serangan ini menjadi yang terjauh jangkauannya sejauh ini dan berpotensi memperburuk krisis bahan bakar yang sudah melanda Rusia. Beberapa wilayah Rusia melaporkan kekurangan bensin dan pembatasan pasokan bahan bakar.
Serangan balasan Ukraina juga dilaporkan mengenai fasilitas energi dan militer di Krimea serta beberapa wilayah Rusia lainnya, termasuk Yaroslavl dan Leningrad. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik semakin meluas dengan pola serangan timbal balik yang semakin intens.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #KonflikUkrainaRusia, #SeranganRudalBalistik, #PertahananUdaraUkraina, #KrisisPatriot, #PerangHibrida, #GeopolitikGlobal,

