RI News. Dubai, United Arab Emirates – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembatalan serangan militer baru terhadap Iran pada Kamis sore. Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah ia sempat mengancam akan merebut kendali industri minyak Iran, menandai perubahan sikap yang dramatis dalam dinamika konflik Timur Tengah.
Dalam pernyataan di Oval Office, Trump mengklaim telah tercapai “penyelesaian besar” untuk mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari lalu melalui serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Ia menyatakan keyakinan bahwa perpanjangan gencatan senjata yang rapuh sejak April dapat difinalisasi dalam beberapa hari mendatang. Perpanjangan ini diyakini memberi ruang bagi negosiasi lebih lanjut, terutama mengenai program nuklir Iran yang menjadi pemicu utama konflik.
Meski demikian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa meskipun teks kesepakatan sebagian besar telah final, proses ini masih terganggu oleh kontradiksi posisi Amerika Serikat. Baghaei menyebut mediator masih aktif, namun belum ada kesepakatan definitif.

Israel, melalui pernyataan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negara itu tidak terlibat dalam kesepakatan yang sedang dibahas antara Washington dan Tehran. Hal ini menambah kompleksitas, mengingat Israel tetap berfokus pada upaya melemahkan kelompok Hizbullah di Lebanon sebagai sekutu Iran.
Konflik yang sempat memanas kembali pekan ini dipicu oleh serangan bolak-balik, termasuk insiden penembakan helikopter AS di dekat Selat Hormuz yang dituduhkan kepada Iran. Trump sempat mengancam aksi keras dengan mengatakan AS akan “menyerang sangat keras malam ini” dan menguasai industri minyak serta gas Iran. Ancaman tersebut termasuk rencana pengambilalihan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran yang menyumbang 90 persen dari total ekspor negara itu.
Namun, Trump kemudian menyampaikan keraguan dalam sebuah wawancara. “Saya tidak yakin Amerika punya perut untuk itu,” katanya, seraya menegaskan tidak ingin mengerahkan pasukan darat dalam skala besar. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut rencana penggunaan dana dari rekening Iran yang dibekukan untuk menutup biaya kerusakan dan pungutan di Selat Hormuz.
Baca juga : Transformasi Fiskal APBD Kota Padangsidimpuan: Dari Birokrasi Menuju Pembangunan Ekonomi
Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik krusial. Gangguan pengiriman selama berbulan-bulan telah memicu lonjakan harga energi global, inflasi pangan, dan tekanan ekonomi yang dirasakan jauh di luar kawasan. Di sisi lain, program nuklir Iran terus menjadi batu sandungan utama. Tehran bersikeras kegiatan nuklirnya bersifat damai, sementara AS dan Israel khawatir akan potensi pengembangan senjata atom.
Di dalam negeri Iran, dampak perang terasa semakin berat. Seorang mahasiswa berusia 25 tahun di Babol, Iran utara, yang meminta anonimitas karena alasan keamanan, menggambarkan situasi masyarakat yang diliputi ketakutan akan kekacauan. “Semuanya berjalan salah dan tidak ada harapan di antara rakyat,” ujarnya. Inflasi pangan yang mencapai tiga digit dan gelombang PHK massal membuat kehidupan sehari-hari semakin sulit.

Perkembangan terbaru juga mencakup aksi militer AS terhadap kapal-kapal tanker yang diduga melanggar blokade, termasuk insiden yang menewaskan tiga pelaut India. Serangan tersebut menuai kecaman dari Organisasi Maritim Internasional di bawah PBB.
Analis geopolitik melihat sikap Trump yang cepat berubah dari ancaman menjadi tawaran damai sebagai pola khasnya. Meski demikian, banyak pihak mempertanyakan keberlanjutan proses ini mengingat perbedaan kepentingan yang mendalam antara para pihak. Sementara harapan gencatan senjata jangka panjang muncul, ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari kata usai.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #TrumpIran, #GencatanSenjata, #KonflikTimurTengah, #ProgramNuklirIran, #SelatHormuz, #GeopolitikGlobal, #EkonomiEnergi,

