RI News. Islamabad – Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan komitmen teguh negaranya terhadap perdamaian regional, sambil menegaskan kesiapan penuh angkatan bersenjata untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah dari segala bentuk ancaman agresif. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi militer signifikan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan, yang telah memicu serangkaian serangan balasan lintas batas.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kantor Perdana Menteri pada Jumat, 27 Februari 2026, Sharif menyatakan bahwa Pakistan senantiasa memprioritaskan perdamaian, namun tidak akan mentolerir pelanggaran terhadap kedaulatan nasional. “Rakyat dan angkatan bersenjata Pakistan selalu siap menjaga keamanan, kedaulatan, serta integritas teritorial negara,” ujarnya. Ia menekankan bahwa militer Pakistan dilengkapi dengan kemampuan profesional tinggi, pelatihan mutakhir, dan strategi pertahanan yang efektif, sehingga mampu menghadapi tantangan baik dari dalam maupun luar negeri.
Sharif menambahkan, “Pakistan selalu mendukung perdamaian, tetapi tidak akan membiarkan gangguan apa pun terhadap integritas teritorialnya.” Ia juga menegaskan solidaritas seluruh bangsa yang berdiri bahu-membahu bersama pasukan bersenjata untuk melindungi tanah air.

Pernyataan ini disampaikan tak lama setelah laporan serangan udara Pakistan terhadap sejumlah target di wilayah Afghanistan, sebagai bagian dari Operasi Ghazab Lil Haq (Amarah Keadilan). Menurut sumber keamanan Pakistan, operasi tersebut berhasil menghancurkan depot amunisi utama, beberapa batalion, serta markas sektor di berbagai lokasi. Serangan ini diklaim sebagai respons terhadap inisiatif serangan dari pihak Taliban Afghanistan terhadap pos-pos militer Pakistan di sepanjang garis Durand.
Di sisi lain, Juru Bicara Pemerintah Afghanistan Zabihullah Mujahid melaporkan melalui akun X-nya bahwa serangan udara Pakistan menyasar wilayah Kabul, Kandahar bagian selatan, serta Provinsi Paktia di timur. Ia menyatakan bahwa pasukan Afghanistan segera melakukan operasi balasan ekstensif terhadap posisi militer Pakistan di Kandahar dan Helmand, yang menyebabkan situasi perbatasan semakin memanas.
Kedua belah pihak saling mengklaim keberhasilan operasi militer masing-masing, dengan laporan korban dan kerusakan yang bertentangan. Eskalasi ini mencerminkan ketegangan berkepanjangan antara Islamabad dan Kabul, di mana isu kelompok militan lintas batas dan tuduhan saling memberikan perlindungan menjadi pemicu utama.
Meski demikian, Sharif menegaskan bahwa pendekatan Pakistan tetap berpijak pada prinsip pertahanan diri yang proporsional, sambil membuka ruang dialog untuk meredakan konflik. Namun, ia memperingatkan bahwa setiap upaya mengganggu kedaulatan akan ditanggapi secara tegas dan tanpa kompromi. Situasi di lapangan masih fluktuatif, dengan potensi eskalasi lebih lanjut yang mengancam stabilitas kawasan Asia Selatan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

