RI News, Uruapan, Meksiko – 31 Oktober 2026. Nyaris setahun setelah suaminya tewas ditembak di tengah perayaan Hari Orang Mati, Wali Kota Uruapan, Grecia Quiroz, kini tak pernah bergerak tanpa kawalan. Tiga mobil lapis baja dan dua truk militer berisi pengawal bersenjata mengiringinya setiap kali ia menyusuri jalan-jalan kota di negara bagian Michoacan itu.
Pendahulunya sekaligus pasangannya, Carlos Alberto Manzo, dikenal sebagai wali kota yang terang-terangan memerangi kartel dan berseberangan dengan sejumlah tokoh politik berpengaruh. Meski Quiroz telah menggantikannya dan berjanji meneruskan perjuangan itu, pembunuhan tersebut masih menyisakan trauma di wilayah yang lama akrab dengan kekerasan.
“Tidak ada yang bisa mengisi kekosongannya,” ujar Quiroz, yang dijaga sepanjang waktu oleh 60 pengawal yang ditugaskan pemerintah federal. Ia mengaku cemas memikirkan nasib anak-anaknya jika sesuatu menimpa dirinya. “Apa yang akan mereka lakukan tanpa ayah dan ibu?” katanya.

Berdasarkan penghitungan kantor berita Associated Press yang bersumber dari laporan resmi, Manzo termasuk dalam sedikitnya 13 wali kota yang dibunuh di seluruh Meksiko sejak Presiden Claudia Sheinbaum menjabat dua tahun lalu. Adapun kelompok masyarakat sipil mencatat 23 wali kota aktif tewas dibunuh selama enam tahun pemerintahan sebelumnya.
Rentetan pembunuhan ini menjadi ujian bagi Sheinbaum, terlebih pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump mendesak Meksiko menindak kartel dan membersihkan korupsi di pemerintahan daerah. Kekerasan politik memang telah lama menyertai konflik kartel, namun jarang menyasar pejabat tingkat tertinggi. Kartel lebih sering menyasar pemimpin lokal, baik dengan menyuap maupun menyingkirkan mereka yang menghalangi kepentingannya.
Peneliti lembaga investigasi Narcopoliticos, Miguel Meza, menilai pembunuhan seperti ini kerap membungkam suara yang mengancam keuntungan kartel. Menurutnya, yang dihabisi bukan sekadar seorang wali kota, melainkan pemimpin simbolis perlawanan terhadap kartel.
Uruapan berjarak sekitar 400 kilometer di sebelah barat Kota Meksiko. Di sana, kematian Manzo menimbulkan ketakutan dan ketidakpastian di tubuh Gerakan Sombrero, gerakan oposisi akar rumput yang ia pimpin dan kini menjadikannya martir. Perdebatan soal siapa dalang pembunuhan itu pun memecah belah politik Michoacan.
Di wilayah yang pengaruh kartelnya kerap melampaui pemerintah, Manzo dikenal karena mengambil alih langsung penindakan terhadap kejahatan dan menantang partai berkuasa, Morena, hingga pekan terakhir hidupnya. Gaya kerasnya sering dikritik. Ia memerintahkan polisi menggunakan kekuatan mematikan terhadap pelaku yang melawan penangkapan atau menyerang warga, memimpin sendiri patroli dan penggeledahan, serta menyiarkan konfrontasinya di media sosial. “Kami berjuang membersihkan kotoran yang membunuh kita semua,” katanya dalam salah satu video.
Ia ditembak di alun-alun utama yang dipadati warga dan dihiasi bunga marigold, pada hari ketika banyak kelompok kriminal biasanya menahan diri karena keluarga sedang mengenang orang yang telah tiada.
Otoritas federal dan negara bagian menuding Kartel Jalisco Generasi Baru (CJNG) berada di balik pembunuhan itu. Kelompok tersebut termasuk lebih dari 20 organisasi kriminal yang ditetapkan pemerintahan Trump sebagai organisasi teroris asing. Quiroz, sebaliknya, menuduh pejabat negara bagian dari partai Sheinbaum yang lama berseteru dengan Manzo dan gerakannya, bersama kelompok kriminal, sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Sejauh ini 34 orang telah ditahan. Jaksa negara bagian menggambarkan konspirasi rumit yang menjangkau lingkaran dalam Manzo. Mereka yang ditahan antara lain tujuh pengawal yang bersamanya saat penyerangan, anggota pemerintahan yang diduga membocorkan pergerakannya, dan anak baptisnya yang dituduh ikut merencanakan pembunuhan. Pada Kamis lalu, jaksa juga menahan sekretaris kesejahteraan kota yang kini menjabat atas dugaan menghalangi proses hukum. Perempuan itu disebut memiliki hubungan keluarga dengan dua terduga anggota CJNG yang ditangkap dalam kasus tersebut.
Quiroz sendiri ikut disorot karena menolak menyerahkan ponsel Manzo kepada jaksa. Juan Manzo, saudara kandung almarhum yang merupakan anggota Morena di pemerintah negara bagian, menuduhnya melindungi sebagian pihak yang ditahan dan tidak transparan. “Saya tidak bisa menuduhnya secara langsung,” katanya. Quiroz membantah dan menyebut keluarganya “dikhianati” orang-orang terdekat.
Di tengah perpecahan politik itu, Uruapan dilanda lonjakan kekerasan. Pada akhir pekan lalu, seorang pria bertopeng bersepeda motor menembak dua perempuan di sebuah warung taco, satu di antaranya tewas. Pada hari yang sama, polisi menemukan dua pria di kebun alpukat dengan luka bakar parah dan tanda penyiksaan, salah satunya meninggal. Otoritas negara bagian mencatat 17 pembunuhan, delapan korban luka tembak, empat serangan terhadap usaha dan rumah, serta sejumlah perampokan sepanjang Oktober.

Quiroz kemudian meminta bantuan pemerintah pusat. “Kita tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi hal yang biasa,” tulisnya. Pada Selasa, otoritas negara bagian mengirim 200 aparat penegak hukum untuk memperkuat keamanan kota.
Tanggapan warga beragam. Pemilik toko David Vázquez mengatakan pemerasan oleh mafia lokal meningkat sejak Manzo dibunuh sehingga usahanya sempat tutup, dan ia kesal melihat pengawalan ketat yang hanya melindungi Quiroz dan keluarganya. Warga lain mengaku tidak terdampak dan menilai Quiroz telah berupaya maksimal di tengah trauma.
Sosok Manzo tetap hadir di kota itu. Poster dan patung dada penghormatan menghiasi alun-alun tempat ia tewas, sedangkan makamnya yang terbuka bagi publik dipenuhi bunga, persembahan makanan, dan sombrero putih. Di batu nisannya terpahat kalimat: “Tidak satu langkah pun mundur.”
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #UruapanBerduka, #GreciaQuiroz, #CarlosManzo, #KekerasanKartel, #PolitikMeksiko, #HariOrangMati, #Michoacan, #KeamananDaerah,
