RI News. Belang, Minahasa Tenggara – Kasus dugaan premanisme dan praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Tababo kembali menjadi sorotan publik. Seorang sopir bernama Jefri Puili resmi melaporkan penganiayaan dan perusakan kendaraan yang dialaminya ke Mapolsek Belang. Pelaku yang dilaporkan adalah AT alias Alva Tora, sosok yang kerap disebut-sebut masyarakat sebagai bagian dari jaringan mafia solar di wilayah tersebut.
Peristiwa bermula ketika Jefri Puili sedang mengantre mengisi solar di SPBU Tababo. Tiba-tiba, AT mendatangi korban dan menuduhnya merekam aktivitas pengisian BBM. Suasana langsung memanas. Menurut keterangan korban, AT yang diduga dalam kondisi mabuk kemudian melemparkan puntung rokok yang masih menyala ke arah Jefri. Tindakan itu sangat berbahaya karena berada di dekat nosel pengisian bahan bakar yang mudah terbakar.
Tak cukup sampai di situ, AT langsung menantang korban duel dan melakukan pemukulan. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya yang berlokasi tepat di samping SPBU, kemudian mengambil sebuah dump truck dan sengaja menabrak mobil Isuzu Panther hitam milik Jefri berulang kali hingga mengalami kerusakan parah pada bagian bodi.

Didampingi keluarga, Jefri Puili segera melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Belang. Pihak keluarga mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polres Minahasa Tenggara, untuk bertindak tegas tanpa pandang bulu.
“Kami meminta agar aparat kepolisian bertindak objektif dan segera menangkap pelaku. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya kepada siapa saja yang bersalah, jangan sampai ada kesan tebang pilih atau kebal hukum di wilayah hukum Minahasa Tenggara,” tegas perwakilan keluarga korban.
Insiden ini memicu gelombang protes dari masyarakat sekitar dan pengguna jalan. Warga menuntut dilakukan inspeksi mendadak serta pemberian sanksi permanen terhadap SPBU Tababo. Selama ini, operasi penertiban dinilai hanya bersifat formalitas dan justru menyebabkan kemacetan panjang akibat antrean yang tidak tertib.
Selain penindakan terhadap pelaku, masyarakat juga mendesak Pertamina untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan karyawan SPBU Tababo. Ada tudingan bahwa pihak SPBU sengaja membiarkan praktik mafia antrean demi mendapatkan keuntungan pribadi melalui aliran fee.
Hingga saat ini, masyarakat Minahasa Tenggara terus mengawal proses hukum agar berjalan transparan dan akuntabel.
Pewarta: RK
Tagline : #PremanismeSPBUTababo, #MafiaSolarSulut, #KekerasanAntreanBBM, #PenegakanHukumMitra, #SPBUTababoRusuh, #JefriPuiliKorban, #MinahasaTenggara, #PertaminaDimintaBertindak,

