RI News. Jakarta – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memuncak pada Senin, meski kedua pihak tampak berusaha mundur dari jurang eskalasi lebih lanjut. Hanya beberapa jam setelah saling melancarkan serangan, kedua negara saling mengeluarkan peringatan keras soal kesiapan balasan, sehingga memicu kekhawatiran luas bahwa Timur Tengah bisa terjerumus kembali ke konflik bersenjata skala besar.
Perkembangan ini terjadi dua bulan setelah Amerika Serikat berhasil mendorong kesepakatan gencatan senjata dengan Tehran. Namun, upaya mengubah gencatan senjata sementara tersebut menjadi perdamaian permanen sejauh ini belum membuahkan hasil. Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu, dampak ekonomi global terus terasa: harga energi melonjak, rantai pasok terganggu, dan biaya hidup masyarakat di berbagai negara ikut tertekan.
Presiden Donald Trump langsung menyerukan penghentian pertempuran segera. Respons cepat datang dari komando militer Iran yang menyatakan menghentikan serangan ofensif, meski tetap mengancam akan membalas dengan kekuatan lebih besar jika Israel atau sekutunya melanjutkan agresi, termasuk di Lebanon selatan. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pernyataannya menyiratkan ronde pertempuran kali ini telah usai, tetapi menegaskan Israel siap merespons dengan kekuatan penuh jika diserang lagi.

Di lapangan, Lebanon kembali menjadi korban. Serangan udara Israel di desa Zefta dan kota Tyre menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, termasuk di kalangan warga sipil dan petugas medis. Di sisi lain, Iran melaporkan sejumlah ledakan di Tehran dan kota-kota lainnya yang menyebabkan puluhan orang terluka, meski belum ada laporan korban tewas. Serangan Israel menyasar fasilitas petrokimia di Mahshahr dan peluncur rudal, yang diklaim sebagai target militer terkait program rudal balistik Iran.
Situasi ini semakin rumit karena dinamika internal kedua pemimpin. Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu dan serangan berulang Hizbullah di perbatasan utara Israel. Di sisi lain, Trump yang juga mempertimbangkan dinamika pemilu Kongres AS berusaha meredam konflik yang telah mengganggu stabilitas ekonomi global.
Beberapa negara kawasan seperti Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar turut aktif mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif secara terbuka menyerukan agar semua pihak memberi ruang lebih besar bagi upaya perdamaian.
Baca juga : Retak di Balik Aliansi: Ketegangan Strategis Trump-Netanyahu yang Mengguncang Timur Tengah
Selain itu, Iran masih mempertahankan kendali ketat atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, sementara blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran terus berlanjut. Insiden pelumpuhan kapal tanker minyak di Teluk Oman menjadi contoh nyata ketegangan di jalur maritim. Di Yaman, kelompok Houthi juga kembali mengancam akan menargetkan kapal-kapal terkait Israel di Laut Merah, yang berpotensi memperburuk krisis pelayaran internasional.
Duta Besar Iran untuk PBB menyatakan bahwa negosiasi damai dengan Amerika Serikat masih berjalan dan ia optimistis kesepakatan bisa segera tercapai. Namun, para analis memperingatkan bahwa kepercayaan yang rapuh di antara para pihak menjadi tantangan utama menuju penyelesaian jangka panjang.
Konflik yang kini memasuki hari ke-100 ini tidak hanya menguji hubungan Israel-Iran, tetapi juga kestabilan geopolitik Timur Tengah dan ekonomi dunia. Tanpa terobosan diplomatik yang kuat, risiko eskalasi lebih luas tetap mengintai.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #TimurTengah, #IsraelIran, #GencatanSenjata, #KonflikRegional, #EkonomiGlobal, #DiplomasiInternasional, #SelatHormuz, #Hizbullah, #DonaldTrump, #BenjaminNetanyahu,

