Skip to content
07/06/2026
  • Facebook
  • Youtube
  • Instagram
RI NEWS

RI NEWS

PORTAL BERITA INDONESIA

baner iklan
Primary Menu
  • Beranda
  • Internasional
  • Nasional
    • IstanaBerita seputar Istana
    • PemerintahanBerita seputar Pemerintahan
    • Politik
    • Parlemen
  • Buser Berita
    • TNI/PolriBerita seputar TNI dan Polri
    • KPKBerita seputar KPK
    • Hukum/PolitikBerita seputar Hukum
  • Regional
    • AcehBerita Seputar Aceh
    • DKI JakartaBerita seputar DKI Jakarta
    • Jawa BaratBerita seputar Jawa Barat
    • Jawa TengahBerita seputar Jawa Tangah
    • Jawa TimurBerita seputar Jawa Timur
    • YogyakartaBerita seputar Yogyakarta
    • BaliBerita Seputar Bali
    • BantenBerita seputar Sumatera
    • Nusa TenggaraBerita seputar Nusa Tenggara
    • SumateraBerita seputar Sumatera
    • KalimantanBerita seputar Kalimantan
    • PapuaBerita seputar Papua
    • SulawesiBerita seputar Sulawesi
    • MalukuBerita seputar Maluku
  • Olah Raga
  • Ilmu PengetahuanBerita seputar Ilmu Penegetahuan
  • Budaya
  • Hiburan
  • BisnisBerita seputar Bisnis
  • Redaksi
  • Privacy Policy
Live
  • Home
  • Hiburan
  • Movie Review: Dekonstruksi Sheriff dan Anomali Kekuasaan Lokal dalam Film “Normal”

Movie Review: Dekonstruksi Sheriff dan Anomali Kekuasaan Lokal dalam Film “Normal”

Jurnalis RI News Portal Posted on 2 bulan ago 3 minutes read
Dekonstruksi Sheriff dan Anomali Kekuasaan Lokal dalam Film
Silahkan bagikan ke media anda ...

RI News. Semarang – Film Normal menghadirkan pendekatan naratif yang tidak lazim dalam lanskap sinema thriller-aksi kontemporer. Disutradarai oleh Ben Wheatley dan ditulis oleh Derek Kolstad—yang dikenal melalui penciptaan semesta John Wick—film ini tidak sekadar menyuguhkan kekerasan visual, tetapi juga menyelipkan kritik sosial terhadap relasi kuasa dalam komunitas lokal Amerika.

Berbeda dari konvensi umum film bertema kota kecil yang korup, “Normal” justru membalikkan peran klasik tersebut. Tokoh sheriff yang biasanya digambarkan sebagai representasi kekuasaan represif, dalam film ini hadir sebagai figur outsider yang berupaya menegakkan rasionalitas hukum. Ulysses, yang diperankan oleh Bob Odenkirk, memasuki kota kecil Normal, Minnesota, bukan sebagai penguasa yang mapan, melainkan sebagai pengganti sementara yang perlahan menyadari adanya distorsi sistemik di balik stabilitas semu kota tersebut.

Secara tematik, film ini menyoroti fenomena “keteraturan artifisial” dalam masyarakat tertutup. Kota Normal digambarkan sebagai ruang sosial yang tampak harmonis, namun menyimpan praktik kontrol sosial yang intensif dan eksklusif. Indikasi ini terlihat dari berbagai elemen naratif: akumulasi dana publik dalam jumlah besar yang tidak transparan, distribusi senjata yang tidak proporsional, hingga pengawasan informal oleh warga sipil. Situasi ini mencerminkan bentuk lokal dari otoritarianisme berbasis komunitas, di mana legitimasi kekuasaan tidak selalu bersumber dari institusi formal, melainkan dari konsensus sosial yang represif.

Konflik memuncak ketika aparat formal—termasuk wali kota yang diperankan Henry Winkler—justru menjadi bagian dari mekanisme eksklusi tersebut. Ketika Ulysses berusaha menjalankan fungsi hukum secara normatif, ia justru dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas lokal. Dalam konteks ini, film “Normal” mengilustrasikan paradoks klasik dalam studi politik hukum: hukum sebagai instrumen keadilan dapat bertransformasi menjadi alat legitimasi kekuasaan ketika beroperasi dalam sistem sosial yang tertutup.

Selain itu, representasi karakter Alex—remaja transgender yang terpinggirkan—memberikan dimensi tambahan terkait isu marginalisasi identitas. Keberadaan karakter ini bukan sekadar pelengkap narasi, tetapi berfungsi sebagai indikator bagaimana komunitas mempertahankan homogenitas melalui eksklusi terhadap “yang berbeda”. Hal ini memperkuat tesis bahwa kota Normal bukan hanya ruang geografis, melainkan konstruksi ideologis yang dikendalikan secara kolektif.

Dari sisi estetika, Wheatley menggabungkan elemen western, thriller, dan aksi dengan pendekatan hiperbolik. Kekerasan yang ditampilkan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai metafora atas eskalasi konflik sosial yang tidak terselesaikan melalui mekanisme deliberatif. Gaya ini memiliki kemiripan dengan atmosfer film Fargo, meskipun “Normal” lebih condong pada eksplorasi aksi dibandingkan komedi gelap.

Baca juga : Kontroversi Mendalam di Balik Dakwaan Federal: Apakah SPLC Menciptakan Ekstremisme yang Dinyatakan Diperanginya?

Kehadiran elemen eksternal seperti jaringan kriminal internasional—yang disimbolkan melalui kemunculan yakuza—menunjukkan bahwa dinamika lokal tidak sepenuhnya terisolasi dari struktur global. Ini mengindikasikan adanya interkoneksi antara kekuasaan lokal dan jaringan ekonomi-politik yang lebih luas, sebuah tema yang relevan dalam kajian globalisasi dan kriminalitas transnasional.

Secara keseluruhan, “Normal” dapat dibaca sebagai refleksi sinematik atas krisis legitimasi institusi hukum di tingkat lokal. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan berbasis aksi, tetapi juga membuka ruang interpretasi kritis mengenai bagaimana kekuasaan, identitas, dan hukum saling berinteraksi dalam masyarakat kontemporer. Dalam lanskap sinema modern, pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa film aksi pun dapat berfungsi sebagai medium refleksi sosial yang substansial.

Pewarta : Vie

About the Author

Jurnalis RI News Portal

Author

Jurnalis RI News Portal adalah seorang wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalis dan profesiinal di bidangnya.

Visit Website View All Posts

Silahkan bagikan ke media anda ...

Post navigation

Previous: Kontroversi Mendalam di Balik Dakwaan Federal: Apakah SPLC Menciptakan Ekstremisme yang Dinyatakan Diperanginya?
Next: Jejak Digital, Modus Kepercayaan, dan Respons Aparat: Kasus Penggelapan Sepeda Motor di Pracimantoro

Related Stories

Sang Penjembatan Senyap dari Bekasi yang Mengantar Seniman Lokal ke Panggung Nasional

Mang Essa, Sang Penjembatan Senyap dari Bekasi yang Mengantar Seniman Lokal ke Panggung Nasional

Jurnalis RI News Portal Posted on 5 hari ago 0
Olivia Rodrigo Hadirkan Ledakan Emosi Cinta yang Rapuh dalam Single

Olivia Rodrigo Hadirkan Ledakan Emosi Cinta yang Rapuh dalam Single “Drop Dead”

Jurnalis RI News Portal Posted on 6 hari ago 0
Syuting A Quiet Place Part III Resmi Dimulai

Kembalinya Suara yang Mematikan: Syuting A Quiet Place Part III Resmi Dimulai

Jurnalis RI News Portal Posted on 4 minggu ago 0
Indonesia Bisa
C.I.A Official
#Advestaiment RI_News
#Iklan RI_News
#Iklan RI_News
Berita Video
Ucapan
Ucapan
Ucapan

Komentar

  1. Sugeng Rudianto mengenai Rehabilitasi Sawah Pasca Bencana di Agam Tembus 276 Hektare, Pemulihan Lahan Terus Dikejar hingga Akhir Mei
  2. Salmifitri Fitri mengenai Dorongan Revisi UU HKPD dari Pontianak: Wali Kota Edi Rusdi Kamtono Usulkan Tarif Parkir hingga 20% dan Kembalikan Rumah Kos sebagai Objek Pajak
  3. Sammy Sandinata mengenai Kapolsek Basa Ampek Balai Tapan Kunjungi Dapur MBG, Perkuat Sinergi Keamanan dan Pelayanan Sosial
  4. Adi tanjoeng mengenai Kapolsek Basa Ampek Balai Tapan Kunjungi Dapur MBG, Perkuat Sinergi Keamanan dan Pelayanan Sosial
  5. Tukino mengenai Tragedi Kelam di Balik Tembok Pesantren: Santri 14 Tahun Dicabuli Pimpinan Pondok Tahfidz di Payakumbuh

Berita Video

 

Berita video mengungkap fakta dengan visual live dan streaming.

Cara Instal Aplikasi RI News Portal di HP kalian ; Download file Zip apk RI News Portal, simpan dan ekstrak file Zip. Kemudian instal ..... enjoy RI News Portal sudah di HP Kalian.

Aplikasi RI News PortalUnduh
Aplikasi RI News PortalUnduh

RI NEWS-Media Portal Berita Republik Indonesia-Menyajikan informasi peristiwa yang teraktual dan terpercaya-Virnanda Creator Production adalah media pemberitaan yang berdedikasi tinggi untuk menyampaikan informasi berkualitas kepada masyarakat. Kami berkomitmen untuk menjadi sumber informasi dunia yang akurat, cepat, dan terpercaya. Kami percaya bahwa informasi yang baik dapat mencerdaskan umat manusia dan menjaga kedamaian dunia. Oleh karena itu, kami berupaya menciptakan dunia yang terbebas dari pertikaian dan permusuhan.

Pos-pos Terbaru

  • Hanura Padangsidimpuan Solid Konsolidasi, Siapkan Kemenangan 2029
  • Pantai Sundak Bangkit: Kodim dan Pemkab Gunungkidul Luncurkan Gerakan Indonesia Asri di Hari Lingkungan Sedunia
  • Dugaan Penipuan Rp555 Juta di Balik Sewa Alat Berat: Cek Bodong Menggerus Kepercayaan Bisnis di Labuan Bajo
  • Kekerasan di Balik Tembok Pesantren: Polres Lombok Tengah Usut Kasus Pembakaran dan Pelecehan Santri
  • Kemajuan Ukraina di Medan Perang dan Diplomasi Eropa: Tekanan Semakin Kuat terhadap Rusia
Copyright © RI News Production | MoreNews by AF themes.