RI News. London, 1 Maret 2026 – Di tengah gejolak Timur Tengah yang semakin membara, ratusan hingga ribuan warga berkumpul di Parliament Square, pusat kota London, pada Sabtu (28/2) untuk menyuarakan penolakan keras terhadap operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Aksi ini menjadi salah satu respons publik paling signifikan di Eropa Barat pasca-serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan pejabat senior lainnya.
Para demonstran, yang datang dari berbagai latar belakang termasuk aktivis perdamaian, komunitas diaspora, dan kelompok anti-perang, mengibarkan bendera nasional Iran di depan landmark ikonik Big Ben. Mereka membawa plakat dengan tulisan-tulisan tegas seperti “Hentikan Perang Imperialis”, “Tidak Ada Lagi Intervensi Militer”, dan “Damai untuk Timur Tengah”. Sorak-sorai dan yel-yel menuntut penghentian segera agresi militer menggema di sekitar lapangan, disertai spanduk besar yang mengecam “regime change” melalui kekerasan sebagai pelanggaran hukum internasional.
Aksi protes ini berlangsung damai namun penuh emosi, mencerminkan keresahan mendalam atas eskalasi konflik yang telah menyeret kawasan ke babak baru kekerasan. Demonstran menyoroti bahwa serangan gabungan tersebut bukan hanya menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran, melainkan juga menimbulkan korban sipil signifikan, termasuk laporan serangan terhadap area pemukiman dan institusi pendidikan.

Sementara itu, Iran merespons dengan cepat melalui serangkaian serangan balasan menggunakan rudal dan drone. Ledakan-ledakan dilaporkan terjadi di berbagai lokasi yang menjadi basis militer AS dan sekutunya, termasuk di Bahrain, Qatar, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi. Serangan balik ini menargetkan instalasi yang dianggap mendukung operasi AS-Israel, meskipun sebagian besar dicegat oleh sistem pertahanan udara negara-negara Teluk. Beberapa korban luka dan kerusakan infrastruktur sipil dilaporkan di sejumlah kota, termasuk dekat bandara dan kawasan pemukiman.
Para analis mengkhawatirkan bahwa siklus serangan dan balasan ini berpotensi meluas menjadi konflik regional yang lebih luas, terutama setelah pernyataan resmi dari Teheran yang menyatakan akan terus membalas hingga “ancaman eksistensial” dihilangkan. Di sisi lain, Washington dan Tel Aviv menyatakan operasi mereka bertujuan mencegah ancaman nuklir dan melemahkan jaringan proksi Iran, dengan janji kelanjutan kampanye hingga tujuan tercapai.
Di Parliament Square, para peserta aksi menekankan bahwa solusi militer hanya akan memperburuk penderitaan rakyat sipil di seluruh kawasan. Seorang demonstran menyatakan, “Kami tidak mendukung rezim mana pun, tapi kami menolak perang yang menelan korban tak berdosa dan mengancam stabilitas global.” Seruan untuk diplomasi mendesak dan penghentian unilateral menjadi tema utama, di tengah kekhawatiran bahwa eskalasi ini dapat memicu krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih parah.
Aksi serupa dilaporkan muncul di berbagai kota dunia, menandakan polarisasi opini publik internasional terhadap konflik yang kini memasuki fase paling berbahaya sejak dekade terakhir. Sementara dunia menunggu respons dari Dewan Keamanan PBB dan pemimpin global, suara dari jalanan London mengingatkan bahwa perdamaian tetap menjadi tuntutan yang tak bisa diabaikan di tengah gemuruh senjata.
Pewarta : Setiawan Wibisono

