RI News. Algiers, Algeria. 14 April 2026 — Dalam kunjungan apostolik pertamanya ke Aljazair, Paus Leo XIV menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik terhadap perdamaian yang berkeadilan, sekaligus menandai babak baru dialog antaragama di negara mayoritas Muslim. Kunjungan bersejarah ini berlangsung di tengah ketegangan internasional yang semakin memanas, termasuk kritik terbuka dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sikap paus yang menentang perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Sebagai paus pertama kelahiran Amerika Serikat dan anggota Ordo Santo Agustinus, Leo XIV memulai tur 11 hari ke empat negara Afrika — Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa — dengan pesan yang kuat tentang perlunya mengakhiri “kecenderungan neokolonial” dalam tatanan dunia saat ini. Di Monumen Para Martir Algiers, di hadapan ribuan warga, ia menyatakan bahwa perdamaian sejati bukan sekadar absennya konflik, melainkan perwujudan nyata dari keadilan dan martabat manusia.
“Kita diingatkan bahwa Tuhan menghendaki perdamaian bagi setiap bangsa, sebuah perdamaian yang lahir dari penghormatan terhadap martabat setiap manusia,” ujar paus dalam pidatonya. Pernyataan ini ia hubungkan dengan perjuangan kemerdekaan Aljazair dari Prancis pada 1962, yang meninggalkan luka mendalam akibat kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Kunjungan ini juga sarat makna teologis dan historis. Leo XIV, yang sering menyebut dirinya sebagai “putra Santo Agustinus”, datang untuk menghormati santo pelindung spiritualnya yang lahir di wilayah yang kini menjadi Aljazair pada abad ke-5. Pada Selasa (15 April), ia dijadwalkan mengunjungi Annaba (dahulu Hippo Regius), tempat Santo Agustinus menjabat sebagai uskup selama tiga dekade. Langkah ini melambangkan kelanjutan warisan pemikiran Agustinus yang mendalam terhadap teologi dan filsafat Barat.
Di tengah perselisihan dengan Presiden Trump, yang menilai sikap paus terlalu “condong ke kiri radikal” dan kurang tegas terhadap isu perang Iran, Leo XIV menjawab dengan tenang namun tegas. Ia menyatakan bahwa seruannya untuk rekonsiliasi dan perdamaian berakar langsung pada ajaran Injil, bukan agenda politik. “Saya tidak takut terhadap pemerintahan mana pun. Tugas kami adalah menyuarakan pesan para pembawa damai,” katanya kepada awak media dalam perjalanan menuju Algiers.
Pertemuan dengan Presiden Abdelmadjid Tebboune semakin memperkuat nuansa dialog. Paus memuji semangat solidaritas masyarakat Aljazair yang dapat menjadi teladan di tengah ketidakseimbangan kekuasaan global. Sementara itu, Tebboune menyambut kunjungan ini sebagai momen bersejarah dan kebanggaan nasional atas warisan Santo Agustinus sebagai “putra kesayangan tanah ini”.
Kunjungan ke Masjid Raya Algiers menjadi salah satu sorotan utama. Paus berdiri dalam keheningan doa di ruang suci tersebut dan menekankan pentingnya saling menghormati serta mencari kebenaran bersama sebagai fondasi kehidupan harmonis antarumat beragama. “Melalui doa, pencarian ilmu, dan pengakuan atas martabat manusia, kita dapat membangun dunia yang damai,” ujarnya secara spontan.
Di balik sambutan hangat tersebut, terdapat realitas kompleks masyarakat Aljazair. Komunitas Katolik di negara ini sangat kecil — hanya sekitar 9.000 jiwa di tengah populasi 47 juta jiwa yang mayoritas Muslim Sunni. Meski demikian, kunjungan ini mendapat perhatian besar dari media lokal, yang menyebut Aljazair sebagai “negeri perdamaian dan kebersamaan” yang kini menjadi pusat perhatian dunia.
Leo XIV juga menyempatkan diri mengenang para martir iman dari era “dekade hitam” Aljazair pada 1990-an, termasuk 19 umat Katolik yang dibunuh, di antaranya tujuh biarawan Trappist dari Biara Tibhirine dan dua biarawati Agustinus. Para martir ini dibeatifikasi pada 2018 dalam upacara bersejarah pertama di dunia Muslim. Paus mengunjungi para biarawati Agustinus yang masih aktif melayani masyarakat lintas agama melalui proyek sosial di Basilika Bunda Maria Afrika.

Analis hubungan antaragama melihat kunjungan ini sebagai upaya strategis Gereja Katolik untuk memperkuat jembatan dialog di tengah konflik global yang semakin rumit. Dengan latar belakang sebagai misionaris di Peru dan pemimpin Dicastery for Bishops di bawah Paus Fransiskus, Leo XIV dikenal membawa pendekatan yang menggabungkan warisan Agustinus — yakni perdamaian tanpa senjata yang “melucuti” permusuhan — dengan realitas kontemporer.
Kunjungan ini tidak hanya bernilai simbolis bagi pertumbuhan Gereja di Afrika, yang kini menjadi pusat vitalitas Katolik dunia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di era ketegangan geopolitik, suara perdamaian berbasis martabat manusia tetap relevan dan mendesak.
Pewarta : Setiawan Wibisono

